Ada pengelolaan awal yang kurang maksimal salah satunya pemanfaatan 'buffer zone', padahal pengelolaannya jadi salah satu kunci

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perhubungan memastikan evaluasi Angkutan Lebaran 2026 di Bali dilakukan optimal dengan mendorong "buffer zone" dan pelabuhan alternatif guna menjaga kelancaran arus penumpang serta meningkatkan efektivitas layanan transportasi di momen berikutnya.

"Ada pengelolaan awal yang kurang maksimal salah satunya pemanfaatan 'buffer zone', padahal pengelolaannya jadi salah satu kunci untuk mengatur kendaraan yang berangkat ke pelabuhan," kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Aan Suhanan dalam keterangan di Jakarta, Selasa.

Aan melakukan evaluasi penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2026 khususnya pada penyelenggaraan di wilayah Bali sebagai upaya peningkatan layanan transportasi ke depannya.

Dia menyampaikan kepadatan yang sempat terjadi di jalan menuju Pelabuhan Gilimanuk saat periode mudik Lebaran 2026 menjadi pelajaran penting untuk segera dicarikan solusinya.

"Hal ini terutama dalam pengelolaan transportasi di simpul penyeberangan yang memiliki keterbatasan kapasitas menampung kendaraan," ujarnya.

Ia menegaskan pelabuhan di mana pun harus ada "buffer zone", karena sifat pelabuhan terbatas menampung kendaraan.

Baca juga: ASDP: 37.877 pemudik menyeberang dari Bali ke Jawa pada H-8 Lebaran

Baca juga: ASDP tingkatkan operasional kapal perkuat kapasitas layanan Jawa-Bali

"Jadi harus berkolaborasi dengan seluruh pihak untuk kita perbaiki bersama,” terang Aan saat kunjungan kerja di Terminal Tipe A Mengwi, Bali.

Aan menilai, agar masalah tersebut tidak terulang lagi, ia mendorong pencarian lokasi buffer zone lainnya sebelum menuju Pelabuhan Gilimanuk untuk mendukung sistem pengaturan kendaraan.

Ia juga berharap pemerintah daerah bisa bekerja sama dalam menyediakan lahan untuk dijadikan kantong parkir (buffer zone) di lokasi yang tidak jauh dari Pelabuhan Gilimanuk.

Dia menambahkan, selain mengatur buffer zone, perlu juga menyediakan pelabuhan alternatif di Bali, untuk mengurangi ketergantungan dan beban berlebih di lintas Ketapang-Gilimanuk, seperti yang sudah diterapkan di lintas Merak-Bakauheni.

Salah satu pelabuhan yang dapat dijadikan alternatif adalah Celukan Bawang untuk membantu mengurai kepadatan saat terjadi lonjakan volume kendaraan di Gilimanuk

Bahkan, lanjut Aan, karena lahan dan area Gilimanuk terbatas, perlu adanya penambahan dermaga plengsengan di area dekat pelabuhan Gilimanuk yakni area Pantai Cemara/area buffer zone cargo untuk menambah kapasitas pelabuhan.

"Diharapkan dermaga tersebut sudah harus bisa beroperasi saat Natal dan Tahun Baru 2026/2027 dan Lebaran 2027,” jelasnya.

Selain itu, peningkatan kapasitas angkut kapal juga menjadi perhatian Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kamenhub.

Atas hal itu, koordinasi dengan operator penyeberangan terus dilakukan agar kapal dengan kapasitas lebih besar dapat dioperasikan di lintasan Ketapang-Gilimanuk, sehingga pergerakan kendaraan yang menyeberang bisa lebih cepat dan antrean dapat diminimalisir.

Dia menegaskan seluruh langkah itu ditargetkan menjadi solusi dalam menghadapi periode angkutan Natal dan Tahun Baru 2026/2027 serta Lebaran di tahun-tahun berikutnya.

Dengan begitu, simpul transportasi di Bali bisa berfungsi lebih optimal dan pengelolaan lalu lintas serta penyeberangan dapat berjalan lebih efektif.

“Kita ingin ke depan perjalanan masyarakat dan distribusi logistik di Bali bisa lebih lancar, aman, dan terkelola dengan baik. Oleh karena itu, butuh koordinasi dan kerja sama semua pihak untuk merealisasikannya,” kata Aan.

Baca juga: Kemenhub gandeng tujuh Pemda perkuat SDM transportasi perkotaan

Baca juga: Menhub perkuat Terminal 2F Bandara Soetta layani penerbangan haji

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.