Chongqing (ANTARA) - Momen ini terjadi di Rumah Sakit Afiliasi Kedua Universitas Kedokteran Chongqing, yang menjadi rumah bagi bangsal penelitian klinis pertama di China barat daya yang didedikasikan untuk teknologi BCI. Fasilitas ini mengeksplorasi bagaimana sinyal saraf dapat diterjemahkan menjadi tindakan fisik, menawarkan kemungkinan baru bagi pasien dengan gangguan neurologis.

Li, yang menderita infark serebral, tidak dapat mengangkat kaki kirinya selama bertahun-tahun.

"Awalnya, saya tidak percaya ini akan berhasil. Tetapi, sekarang saya dapat menggerakkan kaki saya sedikit hanya dengan berpikir," ujarnya.

Setelah beberapa hari pelatihan, dia mengatakan kakinya menjadi lebih responsif, dan dia merasa lebih percaya diri untuk pulih.

Menurut para dokter, terapi ini didasarkan pada "citra motorik", di mana otak menghasilkan sinyal gerakan yang diinginkan bahkan ketika tubuh tidak dapat melaksanakannya. Perangkat elektroensefalogram (EEG) menangkap sinyal-sinyal ini dari kulit kepala, yang kemudian diuraikan oleh algoritma dan diubah menjadi perintah yang mengaktifkan sistem stimulasi eksternal. Proses ini menciptakan siklus umpan balik (feedback loop) yang membantu membangun kembali koneksi antara otak dan tubuh.

"Bahkan peningkatan kecil pun dapat secara signifikan meningkatkan kehidupan sehari-hari pasien," ujar Lu Wanting, salah satu dokter di bangsal tersebut. Sejak didirikan pada Oktober tahun lalu, fasilitas ini telah merawat sekitar 100 pasien, dengan banyak di antaranya merupakan penyintas strok, dengan tanda-tanda peningkatan fungsional yang menggembirakan. Kasus-kasus klinis juga menyediakan data untuk menyempurnakan lebih lanjut teknologi tersebut.

Program ini berfokus pada sistem BCI noninvasif, yang tidak memerlukan pembedahan dan justru mengandalkan perangkat yang dapat dikenakan (wearable), sehingga lebih aman dan lebih mudah diakses. Secara global, teknologi BCI telah menarik perhatian yang semakin besar dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh kemajuan dalam kecerdasan buatan dan ilmu saraf, serta meningkatnya permintaan dari pasien dengan kondisi seperti penyakit Parkinson dan epilepsi.

Menurut rumah sakit itu, pada akhir 2025, Chongqing memperkenalkan Rencana Aksi untuk Pengembangan Inovatif Industri Peralatan Medis Cerdas (2025-2027), yang mencakup teknologi antarmuka otak-komputer sebagai area fokus utama dalam mengembangkan peralatan terapi canggih di seluruh kota tersebut.

Data industri menunjukkan pasar BCI global mencapai hampir 3 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.122) pada 2025, mencerminkan pertumbuhan dan investasi yang pesat. Para peneliti di rumah sakit tersebut juga sedang mengerjakan perangkat portabel yang dapat memungkinkan pemantauan otak secara waktu nyata (real-time) dan memperluas rehabilitasi di luar lingkungan klinis.

Kendati ada kemajuan, tantangan tetap ada. Para pakar mengatakan peningkatan akurasi penguraian sinyal dan efisiensi sistem akan menjadi kunci untuk penerapan yang lebih luas. "Masih ada jalan panjang yang harus ditempuh, tetapi kami bergerak ke arah yang benar," ujar Lu.

Dibandingkan dengan pelatihan pasif one-on-one tradisional dengan bantuan terapis, rehabilitasi berbasis antarmuka otak-komputer dapat secara signifikan meningkatkan intensitas dan efisiensi pelatihan. Seiring bertambahnya jumlah sesi, pasien secara bertahap memperoleh rasa kendali yang lebih kuat atas gerakan mereka, dengan tujuan akhir mencapai kemampuan menggenggam secara mandiri bahkan tanpa perangkat itu.

Bagi pasien seperti Li Qingdong, setiap sesi latihan membawa kemajuan bertahap. Meskipun gerakannya kecil, hal itu menandai titik balik. Di bangsal tersebut, pemulihan dimulai bukan dengan satu langkah, tetapi dengan satu pikiran.


Pewarta: Xinhua
Editor: Ade irma Junida
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.