Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan peran strategis kereta api dalam menekan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi logistik nasional guna mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Dalam rapat koordinasi Pengembangan Jaringan Kereta Api Nasional di Jakarta, Rabu, Menko AHY menyebutkan kontribusi emisi kereta api di Indonesia tercatat kurang dari satu persen atau sekitar 0,6 persen, jauh lebih rendah dibandingkan moda transportasi darat lainnya.
Sebaliknya, sektor transportasi darat secara keseluruhan menyumbang sekitar 89 persen terhadap total emisi, yang dipengaruhi oleh tingginya jumlah kendaraan serta ketergantungan masyarakat pada transportasi jalan.
"Nah, emisi, tadi saya sudah sampaikan di depan ternyata kereta api ini menyumbang di Indonesia ini emisi gas rumah kaca yang terendah itu less than 1 persen, 0,6 persen," kata AHY.
Baca juga: Whoosh catat 15 Juta perjalanan penumpang sejak awal beroperasi
AHY menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendekatan menyeluruh dalam kebijakan transportasi, tanpa mengabaikan moda lain, namun tetap memaksimalkan potensi kereta api sebagai solusi pengurangan emisi nasional.
Ia juga menyoroti adanya kesenjangan besar dalam alokasi anggaran antara pembangunan jalan dan pengembangan infrastruktur perkeretaapian yang selama ini dinilai belum proporsional dalam mendukung sistem transportasi nasional.
Data yang dihimpun dari kementerian terkait menunjukkan alokasi anggaran untuk pembangunan dan preservasi jalan jauh lebih besar dibandingkan pembangunan rel kereta api dalam beberapa tahun terakhir.
Pada tahun 2023 misalnya, alokasi anggaran untuk jalan mencapai sekitar Rp86,9 triliun, sedangkan untuk pembangunan prasarana kereta api hanya sekitar Rp6,5 triliun sehingga memperlihatkan kesenjangan signifikan.

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.