Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh mengusulkan agar pemerintah memperluas deteksi dini tuberkulosis (TBC) untuk menekan jumlah kasus penularan penyakit tersebut.
"Besarnya jumlah suspek menandakan potensi penularan di masyarakat masih sangat tinggi. Deteksi dini harus diperluas agar kasus ditemukan lebih cepat dan rantai penularan segera terputus," ujar Ninik, sapaan akrab Nihayatul Wafiroh dikutip di Jakarta, Kamis.
Hal itu ia sampaikan merespons tingginya angka kasus Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Banyuwangi. Berdasarkan data terbaru, diketahui tercatat sebanyak 3.169 warga Banyuwangi terkonfirmasi positif TBC, sementara lebih dari 27.000 warga lainnya berstatus suspek.
Baca juga: Wamenkes: Pentingnya deteksi dini TBC terhadap lingkungan sekitar
Ninik menyoroti temuan bahwa mayoritas kasus TBC di Banyuwangi menyerang kelompok usia produktif. Menurutnya, dampak TBC tidak berhenti pada masalah kesehatan fisik semata, tetapi juga mengancam stabilitas sosial dan ketahanan ekonomi keluarga.
“Jika usia produktif tumbang karena TBC, produktivitas menurun dan ekonomi keluarga pasti terdampak. Ini adalah tantangan yang harus kita selesaikan secara lintas sektor,” kata dja.
Meskipun angka kasus cukup tinggi, Ninik mengapresiasi langkah Dinas Kesehatan Banyuwangi yang proaktif melakukan pelacakan kontak erat hingga ke level komunitas. Dia mengingatkan bahwa penemuan kasus harus dibarengi dengan komitmen pasien untuk sembuh total.
Beberapa poin krusial yang ditekankan oleh Ninik, antara lain terkait dengan kepatuhan pengobatan. Ia menyampaikan bahwa pasien wajib menyelesaikan terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) selama minimal enam bulan tanpa putus.
Ia meminta masyarakat memanfaatkan program pengobatan gratis dari pemerintah secara optimal. "Pemerintah daerah pun wajib menjamin ketersediaan stok obat dan kualitas pendampingan pasien di lapangan," ujar dia.
Ke depannya, kata Ninik, dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan kesadaran masyarakat, target eliminasi TBC di Banyuwangi dan secara nasional dapat tercapai.
Baca juga: Wamenkes: CKG dan inovasi menjadi harapan dalam mengeliminasi TBC RI
Baca juga: RI tambah anggaran khusus untuk percepatan deteksi TBC pada 2026
Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Benjamin Paulus Octavianus mengatakan langkah percepatan eliminasi TBC melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta inovasi menjadi harapan dalam menghadapi penularan dan kematian akibat penyakit tersebut.
Wamenkes Benjamin mengatakan Indonesia mencatat lebih dari satu juta kasus TBC setiap tahunnya, yang menjadikannya sebagai salah satu negara dengan beban TBC tertinggi di dunia.
Oleh karena itu, pemerintah mendorong langkah cepat melalui deteksi dini masif, termasuk Program CKG dengan target menjangkau 130 juta masyarakat pada tahun 2026.
Pewarta: Tri Meilani Ameliya
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.