Jakarta (ANTARA) - Sejumlah pakar menilai peningkatan angka temuan kasus tuberkulosis (Tb) melalui kegiatan skrining aktif dinilai sebagai indikator positif yang menunjukkan bahwa sistem deteksi dini berjalan efektif di tengah masyarakat.

Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Arief Riadi Arifin dalam kegiatan Cek Kesehatan Gratis dan Skrining Tb di Cilincing, Jakarta Utara, Jumat menilai temuan hingga satu juta kasus Tb di Indonesia bukan merupakan hal yang perlu dikhawatirkan, melainkan langkah krusial untuk memastikan penderita segera mendapatkan pengobatan dan mencegah penularan lebih lanjut.

"Ya karena kita banyak lakukan tracing sekarang, sehingga angkanya akan terlihat timbul" kata Arief.

Arief optimistis bahwa dengan ditemukannya penderita sejak dini, proses pengobatan akan menjadi lebih mudah dilakukan sebelum kondisi pasien memburuk atau menyebabkan komplikasi yang lebih berat.

Ia menganalogikan fenomena ini seperti fenomena gunung es, yang menandakan bahwa tenaga medis di Indonesia berhasil menjangkau penderita yang sebelumnya berada di lapisan bawah fenomena.

Senada dengan Arief, Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PP PAPDI) Eka Ginanjar menyatakan bahwa temuan kasus yang banyak akan mempermudah otoritas kesehatan dalam melakukan intervensi medis yang tepat.

"Jangan takut dengan angka yang tinggi. Angka itu adalah angka riil yang kita bisa intervensi, daripada kita diam-diam, tahu sama tahu, padahal kasusnya banyak," ujarnya menegaskan.

Eka menyebutkan bahwa dengan diketahuinya jumlah kasus yang sebenarnya, pemerintah dan tenaga medis dapat menyusun strategi pencegahan penularan yang lebih terukur di lingkungan keluarga maupun tempat kerja.

Baca juga: Ahli tekankan pentingnya dukungan bagi penderita Tb agar dapat sembuh

Baca juga: Wamenkes tinjau ACF TB di Blora tekankan ketuntasan pengobatan

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.