Surabaya (ANTARA) - Di sudut pertemuan jalan yang tak pernah benar-benar sepi, langkah pejalan kaki sempat terhenti oleh deretan pilar yang berdiri janggal di atas trotoar. Di sanalah, selama bertahun-tahun, nama satu toko hidup dalam bentuk yang setengah diingat, setengah dipertanyakan.
Kini, ketika fasad itu mulai dibongkar pada malam hari, kota seperti sedang membuka kembali lembar lama, tentang ingatan, kekeliruan, dan pilihan masa depan.
Pembongkaran fasad eks Toko Nam di Jalan Embong Malang, Kota Surabaya, Jawa Timur, bukan sekadar pekerjaan teknis yang ditargetkan rampung dalam tiga, hingga lima hari. Ia adalah peristiwa simbolik. Sebuah titik temu antara kebutuhan kota modern dengan upaya merawat sejarah.
Pemerintah Kota Surabaya memilih membongkar struktur yang selama ini dianggap sebagai penanda, setelah dipastikan bukan bagian asli dari bangunan bersejarah.
Di saat yang sama, muncul pertanyaan yang lebih besar: bagaimana seharusnya kota memperlakukan ingatan kolektifnya?
Pionir ritel
Pada masanya, bangunan itu bukan sekadar toko. Ia adalah tanda zaman. Berdiri sejak awal abad ke-20, toko ini menjadi salah satu pelopor konsep ritel modern di Surabaya, bahkan di Hindia Belanda.
Ketika banyak toko masih mengandalkan transaksi langsung di tempat, Toko Nam telah memperkenalkan layanan antar barang kepada pelanggan, sebuah inovasi yang terasa biasa hari ini, tetapi revolusioner pada masa itu.

Letaknya yang strategis di kawasan Tunjungan dan Embong Malang menjadikannya pusat aktivitas ekonomi dan sosial. Dalam satu dekade, pertumbuhannya pesat, hingga harus berpindah ke lokasi yang lebih luas.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.