apa yang didambakan oleh para pekerja perempuan saat ini merupakan hak paling mendasar sebagai seorang manusia
Jakarta (ANTARA) - Malam itu, belum ada sepekan sejak peringatan Hari Kartini dan kurang dari lima hari sebelum Hari Buruh Internasional, tragedi besar seakan menyayat hati seluruh perempuan Indonesia.
Pada Senin (27/4), kecelakaan kereta api itu terjadi. Kereta Api Argo Bromo yang melaju kencang dari Stasiun Gambir, Jakarta, menuju Pasar Turi, Surabaya, menabrak KRL Commuter Line jurusan Jakarta-Cikarang yang berhenti di Stasiun Bekasi Timur.
Hingga Rabu (29/4) pukul 11.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut berjumlah 16 orang, yang semuanya adalah perempuan.
Di dalam gerbong paling ujung itu, para ibu, karyawati, bahkan pekerja informal perempuan saling berdesakan, bertahan dengan lelah yang melekat di jalan pulang, sebelum akhirnya berubah menjadi puing yang dikelilingi barang-barang bawaan mereka.
Cooler bag berisikan ASI, landyard bertuliskan nama dan perusahaan tempat mereka bekerja, isi tas yang berserakan, hingga telepon genggam yang terus berdering oleh pesan-pesan yang tak sempat mereka balas seperti menunggu untuk ditangani dengan baik.
Gerbong khusus wanita yang seharusnya menjadi ruang aman bagi para Kartini urban, dalam sekejap, berubah menjadi tempat paling rentan saat kecelakaan itu terjadi.
Pada pekan yang sama, berita mengenai tempat penitipan anak (daycare) di Yogyakarta juga mengiris hati perempuan lainnya.
Tempat yang dipercaya para ibu muda yang masih harus bekerja untuk menitipkan anaknya bermain dan belajar malah menjadi mimpi buruk yang tak terbayangkan sebelumnya.
Kedua tragedi itu secara serentak seakan menjadi sebuah peringatan bahwa sebenarnya masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk mendukung kesejahteraan para perempuan yang bekerja.
Baca juga: Tak semestinya nestapa kereta malam Jakarta-Bekasi itu terjadi
Resah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.