Pariaman (ANTARA) - Sekretaris Utama (Sestama) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Rustian mengatakan bangunan hunian tetap (Huntap) bagi warga terdampak bencana hidrometeorologi akhir 2025 dirancang ramah terhadap gempa bumi.
"BNPB hadir di tiga siklus bencana, pra, saat dan pasca. BNPB hadir sampai rehabilitasi dan rekonstruksi," kata Rustian di sela peletakan batu pembangunan Huntap Mandiri di Desa Sintuk, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), Jumat.
Baca juga: Pembangunan huntap dari BNPB di Kota Bogor capai 80 persen
Ia mengatakan Huntap dibangun menggunakan Sepablock atau Semen Padang Bata Interlock dari Semen Padang yang dirancang memiliki ketahanan tinggi dan ramah terhadap gempa bumi.
Sestama menekankan pentingnya spesifikasi bangunan yang ramah gempa tersebut, karena wilayah Pariaman, khususnya dan Sumbar umumnya memiliki risiko terjadinya kegempaan yang tinggi.
Oleh karena itu, lanjutnya, BNPB juga memberikan pendampingan dalam proses pembangunan agar bangunan hunian tersebut tidak saja sesuai dengan spesifikasi, namun juga ramah gempa bumi.
"Spesifikasinya sudah dilihat, mudah-mudahan konstruksinya jauh lebih baik lagi," katanya.
Selain Huntap tersebut dibangun kuat, aman dan ramah gempa, lanjutnya, pengerjaannya lebih cepat daripada menggunakan bahan bangunan pada umumnya, sehingga pembangunannya dapat selesai sekitar tiga sampai empat minggu.
Sementara itu, Wali Kota Pariaman Yota Balad mengatakan warga yang terdampak bencana hidrometeorologi di daerah itu banyak menerima bantuan dari pemerintah pusat, khususnya dari BNPB.
"Bantuan stimulan, isi hunian, bantuan rumah rusak ringan dan berat, dan hari ini Huntap Mandiri," kata dia.
Ia mengatakan masih ada lokasi lainnya di Pariaman akan dibangunkan Huntap Mandiri, sehingga lokasi saat ini merupakan percontohan penggunaan bahan Sepablock, karena penggunaan bahan itu pertama kalinya di daerah itu.
Baca juga: Gubernur : Huntap untuk penyintas bencana Sulteng harus tahan gempa
Baca juga: Pemerintah percepat pembangunan 28.972 huntap di Aceh, Sumut, Sumbar
Penerima manfaat Huntap di Desa Sintuk, Ermidona (53) mengatakan rumahnya tertimbun longsor sebanyak lima kali, sehingga pemerintah setempat melarang menjadikan kawasan itu sebagai lokasi hunian.
"Rusak karena tertimbun longsor sudah lima kali, lalu dibangun kembali, bahkan ada keluarga sampai meninggal dunia," ujar dia.
Ia menyampaikan karena rumahnya kembali tertimbun longsor, terpaksa dirinya dan keluarga menumpang di salah satu rumah keluarga hingga pemerintah membangunkan rumahnya.
Pewarta: Rahmatul Laila
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.