Jika bumi berubah, kurikulum juga harus berubah. Sebab, pendidikan bukan hanya mengajarkan membaca buku, tetapi juga membaca tanda-tanda zaman dan bertindak sebelum terlambat.
Jakarta (ANTARA) - Pendidikan sesungguhnya tidak cukup lagi hanya menjadi jalan untuk mencetak sumber daya manusia unggul, terampil, dan kompetitif.
Pendidikan tidak lagi cukup dipahami sekadar sebagai jalan untuk mencetak sumber daya manusia yang unggul, terampil, dan kompetitif.
Di tengah bumi yang berubah dengan cepat, pendidikan juga harus berperan membentuk kesadaran ekologis, membangun kepekaan terhadap krisis, serta menempa kemampuan untuk hidup di tengah ketidakpastian.
Karena itu, kurikulum pendidikan masa kini tidak cukup hanya menyiapkan anak didik untuk pasar kerja. Tetapi juga harus menyiapkan mereka untuk menghadapi realitas dunia yang musimnya tidak lagi mudah ditebak, hujannya tidak lagi teratur, dan suhunya semakin panas.
Masalahnya, pendidikan kita masih cenderung memperlakukan krisis iklim sebagai tema tambahan yang muncul dalam satu-dua mata pelajaran, proyek kebersihan sekolah, kampanye hemat energi, atau kegiatan menanam pohon. Semua itu memang baik dan penting, tetapi tentu belum cukup.
Krisis iklim yang menjadi perhatian masyarakat global saat ini bukan sekadar urusan lingkungan, tetapi juga terkait pangan, kesehatan, kemiskinan, migrasi, tata kota, bencana, energi, konflik sosial, dan masa depan kehidupan umat manusia.
Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) --badan ilmiah di bawah PBB-- menegaskan bahwa dampak dan risiko perubahan iklim tidak berdiri sendiri. Keduanya berkelindan dengan berbagai tren global lain, seperti hilangnya keanekaragaman hayati, degradasi ekosistem, urbanisasi yang pesat, ketimpangan sosial-ekonomi, serta pola konsumsi sumber daya yang tidak berkelanjutan.
Artinya, jika kurikulum pendidikan masih melihat lingkungan sebagai isu pinggiran, pendidikan akan gagal membaca tanda zaman. Anak-anak mungkin tahu menjelaskan proses fotosintesis, tetapi tidak memahami mengapa hutan hilang perlahan.
Mereka mungkin hafal jenis-jenis bencana meteorologi, tetapi tidak memahami mengapa kelompok miskin selalu paling rentan ketika bencana itu datang. Mereka mungkin diajari membuang sampah pada tempatnya, tetapi tidak diajak bertanya mengapa model pembangunan kita terus menghasilkan limbah, emisi, dan ketimpangan ekologis.
Baca juga: UNESCO inisiasi peluncuran pedoman menghijaukan pendidikan di sekolah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.