Kualitas pendidikan tidak lagi ditentukan oleh seberapa megah gedung kampus atau seberapa luas perpustakaan fisiknya, melainkan oleh seberapa luas manfaat ilmu itu mampu menjangkau mereka yang selama ini terhalang oleh sekat jarak, keterbatasan waktu

Jakarta (ANTARA) - Bayangkan sebuah kelas tanpa meja kursi, tanpa papan tulis, tanpa tatap muka, juga tanpa suara. Aneh tapi nyata: percakapannya justru lebih hidup, argumennya lebih tajam, dan keterlibatannya terasa lebih dalam.

Ini seperti menabrak keyakinan lama kita bahwa belajar harus selalu hadir secara fisik. Sesungguhnya dari ruang yang tak berwujud itulah, makna belajar sedang ditulis ulang.​

Ruang-ruang kelas fisik selama ini cenderung dianggap sebagai tempat sakral untuk belajar. Ada semacam keyakinan kuat bahwa tanpa tatap muka, transfer ilmu hanyalah proses mekanis yang hambar dan kehilangan ruhnya.

Pengalaman penulis selama setahun terakhir sebagai teaching fellow pada sesi tutorial online di Universitas Terbuka (UT) justru bercerita sebaliknya.

Mengampu empat kelas dengan total dua ratus mahasiswa dalam mata kuliah Komunikasi Multikultural bukan sekadar urusan administratif, tetapi sebuah ujian kepemimpinan akademik di ruang digital yang sesungguhnya.

Dua ratus adalah angka yang besar, bahkan untuk ukuran kelas universitas konvensional. Di sistem luring, jumlah ini mungkin akan menguras energi pengajar di depan kelas. Namun, di dalam ekosistem tutorial online yang sudah matang, angka ini bertransformasi menjadi kekayaan perspektif yang luar biasa luas.

Di sini, demokratisasi pendidikan bukan lagi sebatas jargon dalam pidato seremoni Hari Pendidikan Nasional, melainkan realitas yang berdenyut di setiap forum diskusi mingguan. Semangat Ki Hadjar Dewantara untuk memerdekakan manusia melalui akses ilmu pengetahuan menemukan bentuk barunya di balik layar gawai.

Baca juga: Kemdiktisaintek dorong pendidikan terbuka jarak jauh lintas negara

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.