Daerah telah memberi pelajaran. Kini saatnya seluruh Indonesia belajar.
Jakarta (ANTARA) - Momentum Hari Pendidikan Nasional perlu menjadi ruang refleksi bersama, utamanya mengenai pemerataan pendidikan kita, apakah benar-benar sudah menjangkau saudara kita yang berada di ujung kepulauan? Lalu, ketika melihat nilai literasi yang kerap jeblok, semestinya kita perlu mulai dari mana untuk membenahinya?
Pertanyaan-pertanyaan reflektif seperti itu perlu digaungkan setiap tahun, bukan untuk meratapi masalah, melainkan untuk memperbaikinya pelan-pelan.
Beberapa waktu lalu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menyelenggarakan Gelar Wicara bertajuk "Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan untuk Meningkatkan Literasi".
Kegiatan itu merupakan forum yang, meski terdengar seperti agenda seremonial belaka, sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih dalam dan mendesak untuk kita renungkan bersama. Boleh jadi, pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dijawab melalui refleksi bersama dari kegiatan tersebut.
Ketika baerah bicara
Dalam forum tersebut, Kemendikdasmen menghadirkan para pejuang literasi dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka dihadirkan bukan sebagai objek kebijakan, melainkan sebagai tokoh sentral yang membagikan praktik baiknya pada panggung nasional. Ini tentu bukan sekadar pemerataan representasi geografis, melainkan pengakuan bahwa kearifan dan inovasi tidak selalu lahir dari gedung-gedung megah di ibu kota.
Program INOVASI, yakni program kemitraan pendidikan antara pemerintah Indonesia dan Australia, menjembatani kisah-kisah inspiratif dari pejuang literasi di pelosok Flobamora sampai ke para pemangku kebijakan di Jakarta. Menariknya, mereka tidak banyak bercerita mengenai keterpurukan atau keluh kesah perjuangan, melainkan bercerita keberhasilan yang bertumpu pada satu pilar yang sering kali terlupakan, yakni “perempuan”.
Langkah Kemendikdasmen dalam memberikan forum berbagi ini tentu patut diapresiasi segenap pihak. Di saat terdapat kecenderungan banyaknya kebijakan yang kerap bersifat top-down dan seragam, forum seperti ini mengindikasikan bahwa masih terdapat ruang untuk mendengarkan, belajar dari bawah, dan mengakui bahwa perubahan bisa dimulai dari seorang ibu yang rajin mendongeng sebelum tidur. Dengan kata lain, peran sentral perempuan dalam pembangunan bangsa tidak hanya cukup dirayakan pada Hari Kartini saja, Hardiknas pun pun layak menjadi momentum yang sama.
Berdasarkan kisah dari praktik baik yang dibagikan dari NTT, terlihat semangat dari para pegiat literasi yang mengubah keterbatasan menjadi kreativitas. Mindriyati Astiningsih Laka Lena, Bunda Literasi NTT periode 2025–2030, misalnya, yang mengungkapkan bahwa buku bacaan berwarna dan bergambar adalah "barang mewah" bagi anak-anak di daerahnya.
Di negara yang sama tempat kita merayakan pertumbuhan ekonomi dan transformasi digital, ternyata masih terdapat anak-anak yang belum pernah memegang buku cerita bergambar. Hal ini tentu perlu kita renungi bersama.
Kendati demikian, keterbatasan tersebut tidak hanya diratapi. Pelbagai solusi justru ditawarkan: Gerakan "Satu ASN, Satu Buku Layak Baca", distribusi Pojok Baca di setiap kunjungan kerja ke desa, advokasi penggunaan dana BOS untuk buku-buku berkualitas yang dikurasi Badan Bahasa. Hal ini menjadi mungkin karena terdapat ekosistem yang saling bahu-membahu, antara lain: Bunda Literasi, kepala sekolah, guru, forum taman bacaan, Pokja Literasi, hingga kader PKK. Bukan hanya one man show; melainkan jejaring kepedulian yang saling menguatkan.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.