Kupang, NTT (ANTARA) - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti memaparkan sejumlah langkah guna menekan angka anak tidak sekolah (ATS), baik yang tidak pernah bersekolah maupun putus sekolah, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, terluar (3T).
Ia mengatakan kondisi geografis negara kepulauan memang menjadi salah satu tantangan guna mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua tanpa terkecuali, sehingga pihaknya terus berupaya untuk menyiapkan sederet strategi guna menjawab tantangan tersebut.
Baca juga: 550 anak putus sekolah di Sulbar kembali belajar
“Berkaitan dengan anak-anak yang tinggal di wilayah 3T, kami menyadari mereka tidak terjangkau dengan layanan pendidikan formal, sehingga kami ingin memperkuat pendidikan nonformal dan informal untuk membekali mereka,” kata Mendikdasmen Mu'ti dalam kegiatan Rapat Koordinasi Implementasi Program Kemendikdasmen dan Sinkronisasi Kebijakan Daerah di Kota Kupang, Nusa Tenggara Barat (NTT), Senin.
Berkaitan dengan peningkatan akses terhadap pendidikan formal untuk menekan ATS di wilayah 3T, ia mengatakan pihaknya siap mengembangkan Sekolah Satu Atap, yang menggabungkan lebih dari satu jenjang pendidikan dalam satu kompleks sekolah.
Selain itu, lanjutnya, pihaknya juga saat ini tengah menggencarkan implementasi Program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang sudah menggandeng 20 Pemerintah Provinsi untuk berkolaborasi menyediakan layanan pembelajaran formal secara daring bagi murid-murid dari wilayah 3T.
Berkenaan dengan program PJJ ini, ia mengatakan dukungan Kemendikdasmen tidak hanya terbatas menyediakan sekolah-sekolah induk yang siap memberikan layanan kegiatan belajar mengajar formal secara daring, namun juga dukungan terhadap ekosistem pembelajaran digital.
Mu'ti menerangkan pihaknya siap memberikan layanan internet Starlink kepada komunitas belajar, khususnya di wilayah 3T yang ingin menyelenggarakan PJJ.
Baca juga: Jumlah anak tidak sekolah di Jakarta Utara capai 22 ribu orang
Baca juga: MPR: Pemanfaatan data terkini penting atasi anak putus sekolah
“Kami bisa kembangkan pembelajaran jarak jauh, yang saat ini sudah melibatkan 20 Pemerintah Provinsi untuk mendukung program tersebut. Lalu, kami bantu juga dengan pemberian jaringan internet Starlink, ada komunitas belajar, dan ada juga sekolah induk yang menjadi pengampu dari program pembelajaran jarak jauh ini,” katanya.
Selain kedua langkah tersebut, ia menambahkan Kemendikdasmen juga terus memperkuat implementasi program kesetaraan, baik itu melalui kejar Paket A, Paket B maupun Paket C. “Sehingga, kami membuat program pendidikan inklusif dan berkeadilan dan itu jalurnya ada,” kata Mu'ti.
Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.