Presiden Prabowo Subianto sendiri telah bertindak cepat, salah satunya dengan menjanjikan pembangunan flyover. Kini, yang dibutuhkan adalah gerak sigap aparat di bawahnya untuk mewujudkan dan mengawal prakarsa mendesak ini.

Jakarta (ANTARA) - Ada sorotan tajam terhadap masinis, sopir taksi, dan bahkan Dirut PT Kereta Api Indonesia (KAI), setelah kecelakaan kereta api terjadi di Bekasi pada 27 April 2026, yang sedikitnya menewaskan 16 orang.

Kecelakaan kereta di Bekasi Timur itu sendiri mirip dengan beberapa kecelakaan kereta api sebelumnya, yakni terjadi di sekitar pintu perlintasan kereta.

Menuntut seseorang untuk bertanggung jawab memang tak salah dan sudah lumrah, asal tepat sasaran. Tapi melupakan penyebab kecelakaan yang sering terulang, adalah lebih salah lagi.

Pangkal utama masalah adalah keadaan di sekitar pintu perlintasan kereta api, tepatnya perlintasan sebidang. Di titik inilah energi terbesar negeri ini harus dikerahkan.

Banyak kecelakaan kereta terjadi atau setidaknya berkaitan dengan situasi di pintu perlintasan sebidang, yang sering diawali dari kebiasaan berkendara yang buruk yang kerap menerobos hal yang tak boleh diterobos, termasuk pintu perlintasan ketika kereta hendak lewat. Bahkan pejalan kaki pun sering nekad menerobos ketika kereta hendak lewat.

Lihat saja kecelakaan kereta yang terjadi di Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan, pada 9 Desember 2013.

Kecelakaan ini pun diawali dari kendaraan yang menerobos pintu perlintasan kereta, lalu terhenti di jalur rel. Pada saat yang sama, kereta api melaju di lintasan tersebut dan membutuhkan jarak yang panjang untuk melakukan pengereman, sehingga tabrakan pun tak terhindarkan.

Walaupun korban jiwa dari kecelakaan ini tidak sebanyak pada insiden kereta sebelumnya, termasuk dibandingkan dengan kecelakaan di Bekasi Timur beberapa waktu lalu, PT KAI Commuter Jabodetabek tetap segera melakukan sejumlah pembenahan. Salah satunya adalah penambahan petunjuk keadaan darurat pada KRL, mengingat saat kejadian banyak penumpang kebingungan membuka pintu darurat.

Namun, langkah drastis yang dilakukan saat itu adalah membangun flyover.

Walau baru terealisasi empat tahun kemudian, flyover Pondok Betung ampuh menutup peluang kecelakaan, sekaligus meningkatkan keselamatan perjalanan kereta, sama dengan flyover-flyover di jalur ini, termasuk flyover Permata Hijau.

Membangun flyover memang mahal dan lama, tapi ini adalah langkah sangat efektif dalam meningkatkan keselamatan perjalanan kereta dan mencegah hilangnya nyawa manusia.

Pilihan ini menjadi kian penting karena di negara ini, kebiasaan pengendara maupun pejalan kaki untuk menerobos perlintasan kereta masih sulit dihentikan.

Banyak orang yang tetap nekat menerobos pintu perlintasan, walau beberapa menit sebelum palang tertutup sempurna sudah terdengar sinyal peringatan bahwa kereta akan melintas. Bahkan suara tersebut kerap terdengar hingga radius sekitar satu kilometer.

Kebiasaan buruk itu terjadi di mana-mana, yang bahkan sulit diingatkan oleh para petugas perlintasan kereta sekalipun.

Di negeri di mana pengendara kerap justru menambah kecepatan saat lampu lalu lintas berubah dari hijau ke kuning, bahkan menerobos lampu merah atau melawan arus, sulit rasanya jika pencegahan kecelakaan kereta hanya mengandalkan kesadaran publik dan ancaman sanksi.

Karena itu, dibutuhkan langkah yang lebih dari sekadar imbauan dan penegakan aturan.

Baca juga: Underpass lebih realistis untuk tekan risiko kecelakaan di perlintasan

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.