Ia tidak terlalu ambisius membangun blok politik baru, tetapi cukup realistis untuk menjaga komunikasi tetap terbuka
Jakarta (ANTARA) - Di tengah tensi persaingan antara Amerika Serikat (AS) dan China, hubungan Asia dan Eropa perlu diupayakan mencari bentuk baru. Asia dan Eropa sama-sama membutuhkan pasar, teknologi, energi, dan juga stabilitas.
Selama ini, banyak negara Asia memandang Eropa terutama sebagai pasar ekspor dan sumber investasi. Namun lanskap itu mulai berubah. Eropa kini tengah melakukan penyesuaian besar dalam kebijakan ekonominya, dari keterbukaan global penuh menuju strategi de-risking, dengan memperkuat industri strategis, serta mempercepat transisi energi dan digitalisasi.
Di sisi lain, negara-negara Asia tidak lagi hanya membutuhkan akses perdagangan, tetapi juga kerja sama yang lebih kompleks berupa ketahanan rantai pasok, pengembangan energi terbarukan, teknologi digital, dan penguatan industri strategis.
European Union (EU) semakin menyadari bahwa pusat pertumbuhan ekonomi dunia tidak lagi bertumpu sepenuhnya pada poros trans-Atlantik. Aktivitas ekonomi global, inovasi teknologi, dan pusat konsumsi baru semakin terkonsentrasi di kawasan Indo-Pasifik.
Indonesia berada di tengah perubahan besar tersebut. Secara geografis, Indonesia menempati posisi strategis sebagai simpul antara arus ekonomi Asia dan kepentingan strategis Eropa. Jalur lautnya menjadi bagian penting dari rantai perdagangan global yang menghubungkan Timur Tengah, Asia Timur, hingga Eropa.
Posisi tersebut tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai ruang lintasan, tetapi juga membuka peluang untuk memainkan peran yang lebih aktif dalam membentuk arsitektur kerja sama Asia–Eropa.
Walau demikian, posisi geografis saja tidak cukup. Banyak negara memiliki lokasi strategis, tetapi gagal mengubahnya menjadi pengaruh diplomatik. Nilai strategis baru muncul ketika sebuah negara mampu menawarkan stabilitas, visi, dan kapasitas kerja sama.
Oleh karena itu, tantangan terbesar Indonesia sebenarnya bukan bagaimana menjadi jembatan Asia-Eropa. Tantangannya adalah bagaimana menjadi pihak yang ikut menentukan arah lalu lintas kerja sama Asia-Eropa.
ASEM memberi peluang
Selama ini, Indonesia terlalu sering nyaman menjadi tuan rumah forum dialog internasional. Kita bangga menjadi tempat pertemuan, tetapi belum selalu berhasil menjadi penggerak agenda. Padahal, negara yang menentukan isu biasanya lebih berpengaruh dibanding negara yang sekadar menyediakan ruang diskusi.
Nah, forum Asia-Europe Meeting (ASEM) memberi peluang untuk mengubah posisi itu. Forum ini relatif lentur dibanding organisasi internasional formal lainnya. Ia tidak terlalu dibebani veto politik, tetapi tetap memiliki ruang koordinasi ekonomi dan diplomasi yang luas.
Dalam situasi global sekarang, kelenturan justru menjadi sebuah kekuatan. Dunia sedang memasuki fase ketika banyak institusi internasional mengalami kebuntuan. Ambil misal, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sulit bergerak cepat. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menghadapi stagnasi panjang. Bahkan, berbagai forum global sering tersandera rivalitas politik negara besar.
ASEM berada di ruang yang sedikit berbeda. Ia tidak terlalu ambisius membangun blok politik baru, tetapi cukup realistis untuk menjaga komunikasi tetap terbuka. Dalam diplomasi internasional, menjaga komunikasi sering kali lebih penting daripada memenangi perdebatan.
Bagi Indonesia, model seperti itu cocok dengan tradisi politik luar negeri bebas aktif. Indonesia selama ini relatif nyaman bermain di ruang tengah, bukan dalam logika blok yang keras. Di sinilah kerja sama Asia-Eropa menjadi penting. Indonesia membutuhkan diversifikasi mitra strategis agar tidak terlalu bergantung pada satu kutub ekonomi global.
Baca juga: Pakar nilai proteksionisme menguat, ASEM fokus ke pembangunan domestik
Dinamika AS-China
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.