Forum ini menjadi ruang penting untuk membahas isu strategis kebencanaan sekaligus memperkuat komitmen lintas sektor dalam menghadapi tantangan global, termasuk krisis iklim

Yogyakarta (ANTARA) - Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Andre Notohamijoyo menegaskan budaya riset menjadi kunci kebijakan bencana selain pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kolaborasi lintas sektor.

Pernyataan tersebut disampaikan Andre saat membuka Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Riset Kebencanaan ke-9 yang diselenggarakan Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), di Yogyakarta, Rabu.

Pada acara yang mengusung tema Penguatan Tata Kelola Risiko Bencana untuk Ketangguhan tersebut, Andre menekankan bahwa di tengah kepungan krisis iklim global, Indonesia membutuhkan rekomendasi kebijakan yang berbasis data sains yang kuat.

"IABI adalah pilar penting dalam menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis riset dan inovasi. Forum ini menjadi ruang penting untuk membahas isu strategis kebencanaan sekaligus memperkuat komitmen lintas sektor dalam menghadapi tantangan global, termasuk krisis iklim," katanya.

Baca juga: Pemerintah perbaiki tata kelola daycare guna lindungi anak dan keluarga

Pertemuan yang dihadiri berbagai sektor terkait di antaranya unsur Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah daerah DIY, akademisi, praktisi, dunia usaha, serta relawan kebencanaan tersebut diisi sejumlah kegiatan antara lain "knowledge sharing", refleksi Gempa Yogyakarta 2006, pelatihan peta risiko bencana, "call for papers", pameran kebencanaan, serta Forum PRB Nasional.

Ia mengatakan, momentum peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta 2006 menjadi refleksi atas dampak besar bencana yang menimbulkan ribuan korban jiwa dan kerugian ekonomi signifikan, sekaligus melahirkan semangat gotong royong dan prinsip Build Back Better.

"Ke depan, penguatan budaya riset, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam membangun ketangguhan jangka panjang," katanya.

Ketua Umum IABI Prof Harkunti P Rahayu saat membuka acara menegaskan risiko bencana tidak hanya berasal dari faktor alam, tetapi juga dipengaruhi oleh kebijakan pembangunan, tata kelola, dan kemampuan adaptasi masyarakat.

Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Riset Kebencanaan tersebut berlangsung selama tiga hari (Rabu sampai Jumat, 6-8 Mei 2026) dengan sekitar 500 peserta.

Baca juga: Gerakan Satu Jam-Ku kurangi anak main gawai, bangun kualitas keluarga

Pewarta: Victorianus Sat Pranyoto
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.