Jakarta (ANTARA) - Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok mengatakan Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur (Jaktim) telah menjadi pelopor webinar dengan fokus pada literasi lingkungan terkait ikan sapu-sapu.
"Saya mengapresiasi dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kota Jakarta Timur yang menggagas acara webinar ini. Ini merupakan yang pertama dilaksanakan oleh Pemerintah Kota di seluruh Provinsi DKI Jakarta," kata Hasudungan dalam webinar bertema "Dari Sungai ke Literasi" yang membahas fenomena ikan sapu-sapu di perairan Jakarta, di Jakarta, Kamis.
Dia menyebutkan kegiatan tersebut merupakan webinar pertama yang digelar oleh pemerintah kota di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan fokus pada literasi lingkungan berbasis persoalan ekologi perkotaan.
Menurut Hasudungan, langkah yang dilakukan oleh Pemkot Jakarta Timur itu merupakan bentuk kreativitas sekaligus inovasi dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap persoalan lingkungan yang kini semakin kompleks.
Bahkan, dia mengatakan di tingkat provinsi, belum pernah diselenggarakan kegiatan serupa, sehingga Jakarta Timur dinilai mampu menjadi pelopor sekaligus contoh bagi wilayah lain.
"Mudah-mudahan bisa menjadi pelopor (trendsetter) dan contoh (role model) buat wilayah lain untuk membuat acara sejenis," ujar Hasudungan.
Baca juga: BRIN pastikan metode penguburan ikan sapu-sapu tidak mencemari tanah
Dalam paparannya, Hasudungan menekankan pentingnya literasi lingkungan sebagai dasar pengambilan kebijakan publik. Ia juga menegaskan setiap kebijakan harus dibangun berdasarkan fakta ilmiah dan bukti sains yang kuat.
Dia menjelaskan tema "Dari Sungai ke Literasi: Membangun Kesadaran Lingkungan Melalui Fenomena Ikan Sapu-Sapu" memiliki makna yang mendalam karena persoalan ikan sapu-sapu bukan hanya berkaitan dengan ekologi, tetapi juga pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran bersama masyarakat.
"Literasi itu merupakan salah satu fondasi untuk kita bisa mengambil kebijakan. Kita tidak bisa mengambil kebijakan kalau tidak didasari science evidence (bukti ilmiah) yang kuat," ucap Hasudungan.
Selain itu, dia menuturkan fenomena meluasnya populasi ikan sapu-sapu di Jakarta kini telah menjadi perhatian oleh berbagai pihak, mulai dari akademisi, lembaga penelitian, pemerintah daerah, pemerintah pusat hingga sejumlah influencer lingkungan.
Dia memandang keterlibatan banyak pihak tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat gerakan penyelamatan ekosistem sungai di Jakarta secara kolaboratif.
Baca juga: Terlanjur makan siomai ikan sapu-sapu? Ini kata peneliti BRIN
Lebih lanjut, webinar tersebut juga diharapkan dapat memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem sungai demi keberlanjutan lingkungan hidup di masa depan.
Hasudungan menilai pembangunan berkelanjutan tidak hanya mengenai pertumbuhan, tetapi juga menjaga keseimbangan antara aspek lingkungan, sosial, dan pengetahuan masyarakat.
Dia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut berpartisipasi aktif menjaga lingkungan dan tidak hanya menyerahkan persoalan sungai kepada pemerintah semata.
"Literasi lingkungan adalah kunci utama agar masyarakat paham bahwa apa yang terjadi di sungai akan berdampak pada kehidupan sehari-hari," ungkap Hasudungan.
Sebelumnya, operasi penangkapan ikan sapu-sapu yang dilaksanakan selama dua pekan di Jakarta Timur berhasil memusnahkan 3,09 ton atau 16.903 ekor ikan sapu-sapu. Operasi ini dilaksanakan di 10 kecamatan se-Jakarta Timur pada 17-27 April 2026.
Baca juga: Pemkot Jaktim tangkap 320 kg ikan sapu-sapu di Waduk Kaja
Baca juga: Jaktim soroti ancaman penyakit kronis akibat konsumsi ikan sapu-sapu
Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.