Jakarta (ANTARA) - Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta menargetkan penurunan populasi ikan sapu-sapu di perairan umum Jakarta menjadi 20 persen dalam dua tahun ke depan.
"Target keberhasilan yang ingin kami capai dalam dua tahun, populasi ikan sapu-sapu yang sekarang bisa mencapai 60 sampai 80 persen di perairan umum Jakarta dapat dikendalikan menjadi 20 persen," kata Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok dalam webinar bertema "Dari Sungai ke Literasi" yang membahas fenomena ikan sapu-sapu di perairan Jakarta, di Jakarta, Kamis.
Saat ini, dia menyebutkan populasi ikan invasif tersebut diperkirakan mencapai 60 hingga 80 persen di sejumlah perairan Jakarta sehingga dapat mengancam keberlangsungan ekosistem ikan lokal.
Menurut dia, ikan sapu-sapu merupakan salah satu dari 14 jenis ikan invasif yang dilarang dipelihara dan dilepasliarkan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020.
Keberadaan ikan sapu-sapu juga dinilai terbukti mengganggu keberlangsungan hidup ikan endemik lokal, merusak ekosistem perairan, serta menyebabkan kerusakan tanggul.
"Ikan sapu-sapu memang terbukti merusak turap tanggul sebagai tempat bertelur," ujar Hasudungan.
Baca juga: Pemkot Jaktim jadi pelopor webinar lingkungan terkait ikan sapu-sapu
Lebih lanjut, dia mengatakan Dinas KPKP DKI bersama pemerintah kota di seluruh Jakarta terus melakukan langkah pengendalian melalui penangkapan massal di perairan umum.
Jakarta Timur pun disebut menjadi salah satu wilayah paling aktif dalam pelaksanaan penangkapan ikan sapu-sapu, dengan jumlah tangkapan yang cukup besar.
Selain penangkapan, Dinas KPKP DKI juga telah menyusun standar operasional prosedur (SOP) metode penangkapan dan pemusnahan ikan sapu-sapu yang efektif.
Dia menuturkan metode pemusnahan ikan sapu-sapu menjadi perhatian serius karena harus memperhatikan aspek kesejahteraan hewan atau animal welfare.
"Kami sudah bersurat ke MUI (Majelis Ulama Indonesia) untuk meminta petunjuk terkait metode pemusnahan yang efektif, tetapi tetap tidak menyalahi kaidah animal welfare," ucap Hasudungan.
Baca juga: Peneliti BRIN ungkap strategi pengendalian populasi ikan sapu-sapu
Selain itu, Dinas KPKP DKI juga menyiapkan langkah restorasi ekosistem melalui restocking atau penebaran kembali ikan lokal apabila populasi ikan sapu-sapu dapat ditekan.
Hasudungan optimistis upaya pengendalian yang dilakukan secara kolaboratif dapat mengembalikan keseimbangan ekosistem perairan Jakarta sekaligus meningkatkan keanekaragaman hayati.
Sebelumnya, Dinas KPKP DKI mencatat sebanyak 68.880 ekor ikan sapu-sapu ditangkap dalam kegiatan serentak di lima wilayah yang dilaksanakan pada 17 April 2026. Total hasil tangkapan ikan sapu-sapu itu mencapai 6.979,5 kilogram (kg) atau setara 6,98 ton.
Berdasarkan data Dinas KPKP DKI, hasil tangkapan terbesar berasal dari wilayah Jakarta Selatan dengan jumlah 63.600 ekor atau setara 5.300 kg dari kawasan Setu Babakan, sementara wilayah Jakarta Timur menghasilkan 4.128 ekor dengan total berat 825,5 kg dari 10 titik kecamatan.
Baca juga: Pemprov DKI evaluasi penanganan ikan sapu-sapu
Baca juga: Pramono berencana bentuk PJLP khusus tangani ikan sapu-sapu
Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.