Jakarta (ANTARA) - Sutradara James Cameron dan The Walt Disney Company dikabarkan digugat atas dugaan penggunaan rupa wajah seorang aktris pribumi tanpa izin sebagai dasar karakter di film “Avatar”.
Menurut laporan Variety, Rabu (6/5), aktris Q’orianka Kilcher yang menggugat itu menuduh bahwa ketika dirinya berusia 14 tahun dan baru tampil sebagai Pocahontas dalam film “The New World” karya Terrence Malick, Cameron mengambil fitur wajahnya dari sebuah foto yang dipublikasikan lalu meminta tim desain menggunakan wajah tersebut sebagai dasar karakter Neytiri di “Avatar”.
“Penggugat tidak pernah memberikan persetujuan atas penggunaan rupanya, baik dalam Avatar maupun produk dan promosi terkait,” bunyi dalam dokumen gugatan itu.
Baca juga: Pembuat film Avatar Fireand Ash tanggapi rencana Netflix akuisisi WB
Menurut dokumen yang diajukan ke Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Central District of California, rupa Kilcher direplikasi dalam sketsa produksi, dibentuk menjadi model tiga dimensi, dipindai laser menjadi model digital resolusi tinggi, lalu didistribusikan ke berbagai vendor efek visual untuk membentuk citra karakter tersebut.
Wajah itu kemudian muncul di bioskop, poster, merchandise, sekuel, hingga penayangan ulang tanpa sepengetahuan maupun persetujuannya.
“Apa yang dilakukan Cameron bukanlah inspirasi, melainkan ekstraksi. Ia mengambil fitur biometrik unik wajah seorang gadis pribumi berusia 14 tahun, memprosesnya melalui sistem produksi industri, dan menghasilkan keuntungan miliaran dolar tanpa pernah meminta izin. Itu bukan pembuatan film. Itu pencurian,” kata Arnold P. Peter dari Peter Law Group selaku kuasa hukum utama Kilcher.
Baca juga: James Cameron tegaskan tidak gunakan AI di film “Avatar”
Menurut gugatan tersebut, Kilcher dan Cameron pertama kali bertemu singkat di sebuah acara amal beberapa bulan setelah perilisan “Avatar” pada 2009. Dalam acara itu, Cameron secara pribadi mengundang Kilcher mengunjungi kantornya.
Sekitar seminggu kemudian saat Kilcher datang, Cameron sedang tidak berada di tempat dan salah satu stafnya memberikan cetakan sketsa berbingkai yang dibuat Cameron.
Pada cetakan itu terdapat catatan tulisan tangan Cameron yang berbunyi “Kecantikanmu menjadi inspirasi awal saya untuk Neytiri. Sayang sekali kamu sedang syuting film lain. Lain kali”.
Baca juga: James Cameron: Gen AI tak akan bisa gantikan seniman dan aktor manusia
“Saya tidak pernah membayangkan seseorang yang saya percaya akan secara sistematis menggunakan wajah saya sebagai bagian dari proses desain rumit dan memasukkannya ke jalur produksi tanpa pengetahuan maupun persetujuan saya. Itu sudah melewati batas besar. Tindakan ini sangat salah,” ujar Kilcher.
Menurut dokumen gugatan, Kilcher baru mengetahui fakta tersebut pada akhir tahun lalu setelah wawancara video Cameron beredar di media sosial. Dalam wawancara itu, Cameron berdiri di depan sketsa Neytiri dan secara spesifik menyebut Kilcher.
“Sumber asli untuk ini adalah sebuah foto di L.A. Times, seorang aktris muda bernama Q’orianka Kilcher. Ini sebenarnya dirinya… bagian bawah wajahnya. Dia punya wajah yang sangat menarik”.
Baca juga: James Cameron mengaku khawatir dengan keberlanjutan film "Avatar"
Gugatan itu juga menuduh para tergugat melanggar undang-undang pornografi deepfake yang baru diberlakukan di California.
“Sangat mengganggu mengetahui bahwa wajah saya saat berusia 14 tahun diambil dan digunakan tanpa pengetahuan maupun persetujuan saya untuk membantu menciptakan aset komersial yang menghasilkan nilai sangat besar bagi Disney dan Cameron,” kata Kilcher.
Film pertama “Avatar” meraup lebih dari 2,92 miliar dolar AS di seluruh dunia dan waralaba tersebut menjadi salah satu seri film dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa.
Baca juga: Q'orianka Kilcher dituntut atas penipuan tunjangan disabilitas
Penerjemah: Sri Dewi Larasati
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.