Yogyakarta (ANTARA) - Staf pengajar Jurusan Tata Kelola Seni, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Mikke Susanto mendorong karya seni menjadi medium edukasi dan pemulihan emosional serta advokasi publik dalam membangun ketangguhan bencana masyarakat.

"Sedikitnya ada tiga relasi penting antara seni dan bencana, yakni bencana sebagai representasi dalam karya, seni sebagai bagian dari pemulihan, serta seni sebagai advokasi publik," kata Mikke dalam diskusi "Peran Budaya dalam Membangun Ketangguhan Bencana pada Masyarakat" di Kampus ISI Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, seni juga bisa menjadi advokasi publik untuk memberi kesadaran atas berbagai macam peristiwa maupun upaya penanggulangan atau ketangguhan menghadapi bencana.

Baca juga: IIYPF 2026 pamerkan 220 karya fotografer muda dari 13 negara

Pada diskusi yang digelar dalam rangka memperingati 20 tahun Gempa Jogja itu, Mikke menilai bahwa seniman memiliki cara berbeda dalam mencatat peristiwa bencana sekaligus mengingatkan masyarakat agar dampak serupa tidak terulang lebih besar pada masa mendatang.

"Seniman selalu punya upaya untuk mencatat sekaligus mengingatkan, jangan sampai terjadi korban lebih banyak dari yang dulu," katanya.

Mikke mengatakan seni juga dapat berperan dalam pemulihan emosional masyarakat pascabencana, termasuk setelah gempa Yogyakarta 2006.

Ia mengenang suasana malam setelah gempa di kawasan Sewon, Bantul, ketika masyarakat tetap menghadirkan ekspresi karawitan sederhana di tengah kegelapan dan keterbatasan.

"Secara emosi kita harus tenang dulu. Masyarakat harus tenang dulu secara emosional, kemudian baru melaksanakan sesuatu secara rasional," katanya.

Ia menilai literasi budaya visual penting untuk membantu masyarakat memahami risiko bencana melalui cara yang lebih kreatif dan mudah diterima. Literasi budaya visual akan sangat membantu masyarakat dalam penyadaran.

"Pendekatan seni dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, mulai dari karya visual, pertunjukan, konten edukatif, hingga praktik partisipatif yang melibatkan masyarakat," katanya.

Baca juga: "ANTARA Sharing Session" di ISI Yogyakarta diikuti puluhan mahasiswa

Baca juga: ISI Yogyakarta pamerkan 262 karya pada Pameran Fotografi Internasional

Pada diskusi yang menghadirkan Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo tersebut, Mikke mengusulkan agar perguruan tinggi seni mulai mempertimbangkan pembelajaran khusus mengenai hubungan seni dan kebencanaan.

"Saya mengusulkan kalau ada mata kuliah seni dan kebencanaan, karena kita ada di lokasi yang paling utama," kata Mikke.

Diskusi tersebut juga menghadirkan Rektor ISI Yogyakarta Irwandi, Guru Besar Sosiologi Kebencanaan Universitas Pertahanan, Syamsul Maarif serta seniman Endang Lestari.

Pewarta: Victorianus Sat Pranyoto
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.