Beijing (ANTARA) - Otoritas China baru-baru ini merilis rencana aksi yang bertujuan mendorong pemberdayaan timbal balik antara kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan energi.
Rencana tersebut menargetkan bahwa pada 2030, kapasitas pasokan energi bersih untuk infrastruktur daya komputasi AI akan meningkat secara signifikan, sementara penerapan AI di sektor energi juga akan mengalami peningkatan besar.
Didorong oleh upaya ini, China bertujuan membangun paradigma pembangunan baru yang bercirikan pemberdayaan timbal balik serta integrasi mendalam antara AI dan energi, menurut rencana aksi yang diterbitkan oleh Administrasi Energi Nasional (National Energy Administration/NEA) China bersama Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (National Development and Reform Commission/NDRC) China, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (Ministry of Industry and Information Technology) China, serta Administrasi Data Nasional (National Data Administration/NDA) China.
NEA mengungkapkan rencana aksi ini bertujuan memastikan pasokan energi yang aman dan andal bagi infrastruktur daya komputasi, mendorong transisi hijau dan rendah karbon pada infrastruktur daya komputasi, serta memfasilitasi koordinasi yang efisien dan ekonomis antara daya komputasi dan listrik.
Selain itu, rencana tersebut juga bertujuan untuk membuka skenario-skenario aplikasi bernilai tinggi bagi AI di sektor energi, membuka potensi nilai data energi, serta memperkuat inovasi model AI di bidang energi.
Pewarta: Xinhua
Editor: Hanni Sofia
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.