Brussel (ANTARA) - Ketegangan di Timur Tengah dan volatilitas pasar minyak global dapat menjadi katalisator bagi negara-negara untuk beralih ke energi terbarukan, menurut mantan under-secretary-general Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Erik Solheim.

"Krisis di Timur Tengah memperkuat hal ini karena semua orang ingin menjadi mandiri dalam hal energi," ujar Solheim kepada Xinhua dalam sesi wawancara baru-baru ini, secara spesifik menyoroti dampak ketegangan di Selat Hormuz.

Solheim berpendapat bahwa ketidakstabilan saat ini mendorong negara-negara untuk mencari keamanan energi domestik dengan beralih dari pasar minyak yang sangat tidak stabil menuju sumber energi hijau seperti tenaga surya, angin, dan air.

Solheim memperingatkan bahwa krisis energi paling berdampak terhadap negara-negara rentan dan berpenghasilan rendah karena mendorong kenaikan biaya pupuk dan transportasi. Untuk mengurangi dampak tersebut, dia menyerukan adanya norma global kerja sama.

Solheim menegaskan bahwa teknologi hijau bukan lagi sekadar pilihan lingkungan, melainkan kebutuhan ekonomi. "Jika Anda beralih ke tenaga surya, Anda akan menghemat uang," katanya, sembari menggambarkan energi terbarukan sebagai sumber energi paling murah dan paling mudah dikembangkan yang tersedia saat ini.

Terkesan dengan ketahanan energi China, dia menyoroti sistem energi domestik China yang kuat serta industri kendaraan listriknya yang berkembang pesat sebagai faktor kunci dalam keamanan energinya.

China kini menjadi pemain penting dalam industri hijau, memproduksi sebagian besar panel surya dan baterai listrik di dunia, katanya.

Mantan pejabat PBB tersebut juga menyatakan bahwa banyak negara mewaspadai ketergantungan berlebihan pada perubahan kebijakan dari Washington, yang dapat menyebabkan harga minyak berfluktuasi berdasarkan rumor terbaru.

Oleh karena itu, para pemimpin sedang mempertimbangkan sumber energi stabil berbasis sinar matahari, angin, dan sungai di dalam negeri.

Solheim mendesak negara-negara Eropa dan mitra global lainnya untuk menyambut kerja sama dengan industri hijau China, memperingatkan bahwa hambatan perdagangan hanya akan memperlambat laju transisi hijau dan menggagalkan perjuangan melawan perubahan iklim.

Pewarta: Xinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.