Tradisi ini menjadi perjumpaan batin antara yang memberi dan menerima, sekaligus sarana melatih keikhlasan dan melembutkan hati

Jakarta (ANTARA) - Menteri Agama Nasaruddin Umar menghadiri gelaran Pindapata Nasional Gema Waisak 2570 B.E. Tahun 2026 dan menegaskan tradisi tersebut bukan sekadar tradisi keagamaan, melainkan pelajaran tentang hidup.

“Hari ini, kita tidak hanya menyaksikan sebuah tradisi keagamaan. Kita sedang menyaksikan pelajaran tentang kehidupan,” ujar Menag Nasaruddin Umar di Jakarta, Minggu.

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Vesakha Sananda 2570 B.E. ini dihadiri sekitar 75 bhikkhu anggota Sangha Theravada Indonesia dan kurang lebih 10.000 umat Buddha dari berbagai daerah.

Mengusung tema “Menapaki Jalan Mulia Bersumbangsih bagi Negeri”, kegiatan tersebut mengajak umat untuk mewujudkan praktik spiritual melalui tindakan nyata bagi sesama dan bangsa.

Baca juga: Menag harap Indonesia jadi contoh negara paling toleran

Menurutnya, di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, Pindapata menghadirkan keteduhan dan pengingat bahwa hidup bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang berbagi.

Menag menilai tradisi ini menjadi perjumpaan batin antara yang memberi dan menerima, sekaligus sarana melatih keikhlasan dan melembutkan hati.

“Dalam kesederhanaan para Bhikkhu, kita belajar bahwa manusia tidak selalu dibesarkan oleh apa yang dimilikinya, tetapi oleh apa yang mampu ia lepaskan,” ujarnya.

Menag juga menyinggung pentingnya menghadirkan nilai cinta kasih dalam kehidupan beragama dan sosial melalui penguatan kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi. Menurutnya, agama harus mampu menghadirkan keteduhan, kesejukan, serta semangat melayani dalam kehidupan bermasyarakat.

Baca juga: Menag imbau lembaga pendidikan kembangkan kurikulum Cinta

“Semoga Gema Waisak Pindapata Nasional 2026 tidak hanya menjadi sebuah perayaan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa bangsa ini membutuhkan lebih banyak hati yang lembut, lebih banyak welas asih, dan lebih banyak kebijaksanaan,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Umum Sangha Theravada Indonesia Bhikkhu Subhapanno Mahathera menyampaikan Pindapata merupakan tradisi luhur Buddhis yang telah berlangsung sejak zaman Buddha Gautama dan menjadi praktik kebajikan yang terus diwariskan hingga kini.

“Pindapata adalah salah satu bentuk dana. Bila dana dilaksanakan dengan baik maka kemoralan (sila) akan lebih sempurna. Sila yang lebih sempurna dipraktekan maka keteguhan batin samadhi juga berkembang. Samadhi yang dikembangkan dengan baik maka kebijaksanaan juga akan berkembang. Itulah jalan untuk menuju kebebasan akhir derita yaitu Nibbana,” kata Bikkhu.

Ia juga mengajak umat Buddha untuk terus menambah kebajikan dengan menjauhi segala bentuk kejahatan dan menjaga diri demi terciptanya kehidupan yang harmonis bagi masyarakat dan bangsa.

Baca juga: Pemuda masjid dari tujuh negara ikuti MTQ Internasional di Istiqlal

Selain Pindapata Nasional, rangkaian Gema Waisak Nasional 2026 juga diisi dengan berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan seperti donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, bantuan sosial, serta penyebaran eco enzyme sebagai bagian dari implementasi program ekoteologi.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, yakni Bhikkhu Sangha, Dirjen Bimas Buddha serta jajaran, Anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta, beberapa pejabat daerah, Ketua Organisasi Keagamaan Buddha, keluarga besar Theravada Indonesia, Magabudhi, Wandani, Patria dan seluruh komponen lembaga umat Buddha.

Baca juga: Menag bertemu Dubes Oman bahas peluang beasiswa bagi pelajar Indonesia

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.