Apakah lelah? Sudah pasti. Pekerjaan utama meracik berita sering kali tidak berjalan mulus seperti standar penugasan pada umumnya. Rencana peliputan bisa buyar seketika saat ada lansia yang kelelahan atau rombongan yang tersesat.

Makkah (ANTARA) - Bagi para pewarta yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH), penugasan di Tanah Suci bukanlah sekadar ajang unjuk kebolehan mengejar berita atau merangkai kata.

Mayoritas dari mereka adalah jurnalis yang sehari-harinya terbiasa berlarian mengejar narasumber, mengetik cepat di tengah hiruk-pikuk peristiwa, dan membidik lensa untuk mendapatkan visual paling eksklusif. Namun, ketika seragam petugas haji berwarna cokelat itu melekat di badan, ada amanah besar yang menuntut dedikasi jauh di atas tenggat waktu redaksi.

Di pelataran Masjidil Haram yang megah dan tak pernah tidur, tugas jurnalistik kerap kali harus mengalah demi satu panggilan mulia, melayani jamaah calon haji.

Tantangan terbesar saat bertugas di Masjidil Haram bukanlah sulitnya mencari narasumber atau merumuskan sudut pandang berita, melainkan menyeimbangkan tugas peliputan dengan rentetan permintaan tolong yang datang silih berganti.

Jamaah tidak tahu bahwa mereka adalah jurnalis. Yang mereka tahu, sosok berseragam cokelat tersebut adalah representasi negara yang siap menjadi tempat menautkan harapan saat mereka dirundung kebingungan di negeri orang.

Permintaan tolong yang datang wujudnya sangat beragam, nyaris tanpa henti. Mulai dari kepanikan anggota jamaah yang terpisah dari rombongannya, suami yang kehilangan jejak sang istri, anak yang panik mencari orang tuanya, hingga mereka yang kebingungan menanyakan arah menuju terminal kepulangan.

Belum lagi ragam urusan teknis seperti anggota jamaah yang meminta bantuan cara menarik uang riyal di mesin ATM, yang kehilangan sandal usai tawaf, yang kelelahan mendorong kursi roda orang tuanya, hingga yang tumbang kelelahan setelah menyelesaikan rangkaian umrah wajib di bawah terik matahari Makkah yang menyengat.

Seiring dengan semakin membeludaknya jamaah calon haji di Makkah, kepadatan di Masjidil Haram pun meningkat drastis. Akibatnya, durasi peliputan petugas MCH menjadi semakin "sulit" dan tersendat. Nyaris tidak ada ruang untuk sekadar berdiri diam merekam video, karena setiap saat selalu ada jamaah yang menghampiri untuk meminta pertolongan.

Salah satu fenomena harian yang paling menguras energi dan pikiran adalah ketidaktahuan jamaah calon haji Indonesia mengenai akses transportasi kembali ke hotel. Banyak jamaah yang belum paham bahwa terdapat tiga terminal utama di sekitar kawasan Masjidil Haram yang dapat diakses, yakni Terminal Syib Amir, Terminal Ajyad, dan Terminal Jabal Ka'bah. Di ketiga titik inilah bus Shalawat bersiaga 24 jam penuh melayani jamaah secara gratis dengan rute yang berbeda-beda.

Namun, banyak jamaah calon haji yang tersasar, baik individu maupun rombongan, karena insting "hanya mengikuti jamaah di depannya". Sering kali, jamaah yang seharusnya pulang melalui Terminal Syib Amir, terminal krusial yang melayani lebih dari 100 ribu atau separuh lebih jamaah haji Indonesia, justru terseret arus pejalan kaki dan salah arah menuju Terminal Ajyad.

Letak Terminal Ajyad tepat di belakang Zamzam Tower dan memang relatif paling dekat secara jarak dari pelataran Masjidil Haram. Alhasil, para petugas MCH berkali-kali harus memutar otak, menunda liputan, dan berjalan bolak-balik dari pelataran Masjidil Haram ke Terminal Syib Amir demi menuntun jamaah yang kehilangan arah.

Baca juga: Pengabdian seorang perawat layani tamu Allah di Tanah Suci

Baca juga: Menhaj tertarik menu makanan jamaah haji Embarkasi Lombok

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.