Jakarta (ANTARA) - Kualitas udara Jakarta terburuk ketiga di dunia pada Senin pagi, berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 07.00 WIB.

Indeks kualitas udara (AQI) kota metropolitan itu berada di angka 162 dengan angka partikel halus atau particulate matter (PM) 2.5 berkonsentrasi 63 mikrogram per meter kubik.

Kondisi itu menjadikan udara Jakarta masuk kategori tidak sehat, sehingga masyarakat dianjurkan agar menghindari aktivitas di luar ruangan. Apabila berada di luar ruangan, masyarakat dianjurkan untuk menggunakan masker.

Sementara itu, kota dengan kualitas udara terburuk pertama di dunia adalah Dhaka, Bangladesh, dengan indeks kualitas udara 191. Kemudian, urutan kedua ditempati oleh Kumpala, Uganda, dengan indeks kualitas udara 169.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan tiga strategi utama untuk memperbaiki kualitas udara di ibu kota.

Pertama, yaitu perluasan jangkauan layanan bus Transjabodetabek untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, di antaranya Blok M-Alam Sutera, Blok M-PIK 2, serta Blok M-Bandara Soekarno Hatta.

Selanjutnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan pengoperasian 10.000 bus listrik Transjakarta pada 2030, mengingat sektor transportasi saat ini menyumbang 50 persen emisi gas buang di Jakarta.

Ketiga, pada sektor pengelolaan sampah, Pemprov DKI mendorong pengoperasian secara efektif fasilitas Refused Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara.

Baca juga: Penerapan kawasan rendah emisi tekan polusi udara di Jakarta

Baca juga: DKI siapkan respon cepat tanggulangi pencemaran udara saat kemarau

Baca juga: DKI susun Raperda Pengelolaan Mutu Udara untuk kendalikan pencemaran

Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.