Moskow (ANTARA) - Iran menolak usulan perdamaian yang diajukan Amerika Serikat (AS) karena hal tersebut "berarti menerima tuntutan yang berlebihan" dari Washington, menurut laporan Press TV.

Kantor berita Iran ISNA sebelumnya melaporkan bahwa respons Iran terhadap usulan dari AS difokuskan untuk mengakhiri perang serta memastikan keamanan pelayaran di Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump menuturkan tanggapan Iran terhadap proposal AS untuk mengakhiri konflik sangat tak bisa diterima.

Menurut Press TV, tanggapan dari Iran menekankan perlunya AS membayar kerugian perang kepada Teheran.

Baca juga: Trump kecam tanggapan Iran atas usulan AS untuk akhiri perang

Pada awal Mei, seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran mengonfirmasi Teheran telah menerima tanggapan AS terhadap usulan perdamaian 14 poin dari Iran, melalui perantara Pakistan.

Kantor berita Tasnim pada Ahad melaporkan bahwa usulan Iran untuk negosiasi lanjutan dengan AS, yang sudah disampaikan ke Washington, mencakup pencabutan sanksi, kontrol penuh Iran atas Selat Hormuz, dan pencairan aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri.

Baca juga: Iran kirimkan tanggapan ke Pakistan atas usulan AS untuk akhiri perang

Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran, sehingga menewaskan lebih dari 3.000 orang. Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata pada 8 April.

Perundingan damai yang berlangsung di Islamabad setelah itu belum menghasilkan kesepakatan jangka panjang. Meski kedua pihak tak lagi saling serang, AS kemudian melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Mediator masih berupaya untuk memfasilitasi putaran baru perundingan antara Washington dan Teheran.

Sumber: Sputnik

Baca juga: ICRC kecam serangan infrastruktur sipil di tengah ancaman AS ke Iran

Baca juga: Dubes: China bisa jadi penjamin kesepakatan AS-Iran

Penerjemah: Nabil Ihsan
Editor: Martha Herlinawati Simanjuntak
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.