Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Faisal Parlindungan, menyebut terdapat 12 pertanyaan skrining mandiri atau memeriksa lupus sendiri (Saluri) yang dapat membantu mendeteksi dini gejala lupus, terutama pada perempuan usia subur.
"Jika ada wanita dengan ada gejala yang tidak jelas apa sebabnya, kemudian memiliki riwayat keluarga dengan penyakit autoimun, maka silakan lakukan saluri," kata Faisal Parlindungan dalam seminar daring yang diadakan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Senin.
Ke-12 pertanyaan itu yakni terkait apakah mengalami demam lebih dari 38 derajat Celcius dengan sebab tidak jelas, merasa lelah dan lemah berlebihan, sensitif terhadap sinar matahari, rambut rontok.
Kemudian, ruam merah berbentuk kupu-kupu yang sayapnya melintang dari pipi ke pipi, ruam kemerahan di kulit, sariawan tidak sembuh-sembuh terutama di atap rongga mulut, nyeri dan bengkak pada persendian terutama di lengah dan tungkai.
Berikutnya, ujung-ujung jari tangan dan kaki menjadi pucat hingga kebiruan saat udara dingin, nyeri dada terutama saat berbaring dan menarik napas, kejang atau kelainan saraf lainnya, serta kelainan hasil pemeriksaan laboratorium seperti penurunan kadar sel darah merah, dan lainnya.
"Jika dijumpai minimal empat jawaban 'iya', maka dapat dicurigai, jangan-jangan ini adalah lupus," kata Faisal.
Dia menganjurkan pasien dengan hasil kuesioner Saluri positif untuk mengunjungi fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) agar bisa dilakukan pemeriksaan lanjutan.
"Di FKTP, bisa melakukan deteksi dini lupus. Tentu dengan populasi-populasi yang kita targetkan, yaitu wanita usia subur dengan usia di atas 18 tahun. Kita bisa melakukan wawancara," kata dia.
Lupus merupakan suatu penyakit reumatik atau imun kronis yang dapat mengenai berbagai organ. Tubuh memiliki gangguan pada sistem imun sehingga kehilangan kemampuan untuk mengenali dan membedakan zat asing dengan sel atau jaringan tubuh pasien sendiri.
Kondisi ini menyebabkan dibentuknya auto-antibodi yang banyak yang kemudian dapat menyerang jaringan sehat.
"Akhirnya auto-antibodi tersebut akan membentuk kompleks imun yang akan memicu peradangan atau inflamasi dan kemudian akan merusak jaringan," kata Faisal.
Di Indonesia, diperkirakan angka insidensi lupus sekitar 7,4 per 100 ribu orang per tahun, dengan angka kejadian pada laki-laki itu jauh lebih sedikit dibandingkan wanita.
Pada laki-laki, diperkirakan angka insidensi itu sebesar 1,53 per 100 ribu orang per tahun dan diperkirakan ada sekitar 60 ribu kasus baru setiap tahunnya.
Sedangkan pada wanita, angka insidensinya lebih tinggi, 8,82 per 100 ribu orang per tahun dan diperkirakan ada 340 ribu kasus baru setiap tahunnya.
Baca juga: Lupus sulit didiagnosis tapi bisa dideteksi lewat SALURI
Baca juga: DKI targetkan wanita usia 18 tahun ke atas jadi sasaran skrining lupus
Baca juga: Peneliti China temukan cacat gen penyebab utama lupus
Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.