Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan tim petugas gabungan masih terus melakukan pemantauan pascabanjir yang merendam sedikitnya 80 hektare lahan persawahan di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa tim gabungan di Luwu Timur masih memantau dampak serta perkembangan ketinggian air pascabanjir yang dipicu oleh luapan Sungai Balo-Balo sejak Jumat (8/5) pukul 10.00 WITA itu.
Pusat Pengendalian Operasi BNPB mengonfirmasi hasil kaji cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, selain merendam puluhan hektare sawah, bencana ini juga berdampak pada 10 hektare kebun sawit dan 10 hektare tambak milik warga.
Sementara itu, tercatat sebanyak enam kepala keluarga (KK) terdampak akibat rumah mereka terendam air.
Sampai dengan Minggu (10/5), kondisi banjir di beberapa titik dilaporkan telah berangsur surut.
Namun, Abdul memastikan tim gabungan di Luwu Timur telah melakukan reaksi cepat penanganan darurat sehingga dampak banjir terhadap masyarakat tidak meluas, serta melakukan pendataan lebih lanjut terkait kebutuhan warga.
"Monitoring tetap dilakukan untuk mengantisipasi potensi banjir susulan mengingat dinamika cuaca yang masih fluktuatif di wilayah Sulawesi Selatan," kata dia.
Dia juga mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk tetap waspada terhadap potensi luapan sungai, terutama bagi warga yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) dan wilayah produktif seperti lahan pertanian.
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.