Jakarta (ANTARA) - Anggota DPR RI Azis Subekti mengatakan stok beras nasional yang mencapai lebih dari 5 juta ton harus diiringi dengan kekuatan rantai pasok yang pada akhirnya bermuara pada stabilitas harga.
"Seluruh capaian itu pada akhirnya harus bermuara pada satu hal, harga yang stabil; karena di situlah rakyat merasakan kehadiran negara," kata Azis dalam keterangan diterima di Jakarta, Senin.
Menurut dia, cadangan beras mencapai 5,23 juta ton yang dikelola Perum Bulog mencerminkan kapasitas negara dalam menjaga ketahanan pangan pada level yang belum pernah dicapai sebelumnya.
"Dalam waktu yang tidak terlalu panjang, stok ini meningkat tajam. Dibanding dua tahun lalu, lonjakannya bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat," ucapnya.
Seiring dengan stok beras yang relatif aman, Azis juga menyoroti pergeseran menuju kemandirian pangan. Dia menyebut stok beras saat ini berasal dari hasil serapan produksi petani dalam negeri.
Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan perubahan arah dari sebelumnya petani Indonesia hidup dalam ketidakpastian.
"Ketika negara membeli, petani berani menanam. Ketika petani menanam, produksi meningkat. Ketika produksi meningkat, Bulog menyerap. Ketika Bulog menyerap, stok nasional menguat," ucapnya.
Namun, Azis menekankan swasembada beras tidak berhenti pada jumlah stok di gudang. "Ia diuji di pasar karena rakyat tidak merasakan angka 5 juta ton, rakyat merasakan harga di warung," ujarnya.
Dalam tataran itu, ia menilai kekuatan rantai pasok menjadi penentu. Produksi yang tinggi, menurut dia, harus diikuti dengan distribusi yang presisi.
Stok beras yang besar perlu diiringi dengan pergerakan logistik yang cepat dan efisien. Tanpa itu, negara bisa saja memiliki cadangan melimpah, tetapi harga tetap bergejolak di berbagai daerah.
"Pengalaman global menunjukkan hal tersebut. Banyak negara memiliki produksi besar, tetapi gagal menjaga stabilitas harga karena distribusi, logistik, dan tata kelola pasarnya lemah," ujar Azis.
Menurut dia, swasembada bukan hanya soal produksi, melainkan tentang kemampuan membangun sistem pangan nasional yang utuh.
Dia meyakini Indonesia mulai bergerak menuju kepemimpinan kebijakan yang lebih integratif, yakni tidak berhenti pada perencanaan, tetapi juga memastikan pelaksanaan.
"Pada akhirnya, swasembada bukan tentang negara yang merasa cukup, melainkan tentang rakyat yang tidak lagi merasa kekurangan," kata Azis.
Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan stok beras nasional yang dikelola perusahaan tersebut telah mencapai 5,23 juta ton untuk menjaga ketahanan pangan hingga tahun depan secara aman.
"Untuk seluruh Indonesia stok (cadangan beras pemerintah yang dikelola) Bulog itu sekarang sudah mencapai 5,23 juta ton dan ini bisa untuk ketahanan pangan kita sampai tahun depan," kata Rizal di Jakarta, Kamis (7/5).
Ia memastikan ketersediaan stok tersebut cukup menghadapi potensi gangguan produksi pangan, termasuk ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada pertengahan hingga akhir tahun mendatang.
Baca juga: Dirut Bulog: Stok beras 5,23 juta ton aman hingga tahun depan
Baca juga: Mentan persilakan mahasiswa cek kebenaran stok beras 5,2 juta ton
Pewarta: Fath Putra Mulya
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.