Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn mengatakan para pemimpin ASEAN setuju untuk tetap mengintensifkan dialog dengan pemerintahan baru Myanmar demi mengusahakan berakhirnya konflik dan mewujudkan rekonsiliasi nasional di negara itu.
Sekjen Kao mengatakan dalam konferensi pers terkait hasil KTT ke-48 ASEAN, Senin, para menteri luar negeri se-ASEAN setuju bahwa mereka perlu terus berkomunikasi dengan mitranya di Myanmar untuk mencari solusi perdamaian di sana.
“Para menteri sepakat akan perlunya mengadakan pertemuan daring untuk mendengar perkembangan dari pihak Myanmar dan, tentu saja, bagi pihak Myanmar untuk dapat mendengar pandangan dan masukan dari mitra di ASEAN,” kata Kao di Sekretariat ASEAN Jakarta.
Menurut Sekjen ASEAN, para pemimpin se-Asia Tenggara pada dasarnya sepakat untuk memperjuangkan tercapainya konsensus terkait isu Myanmar. Tetapi, pembahasan masih terbuka untuk menentukan langkah selanjutnya yang perlu ditempuh untuk Myanmar.
ASEAN berkomitmen terus memfasilitasi solusi damai atas konflik di Myanmar yang selaras dengan Konsensus Lima Poin (5PC), kata dia.
Ia pun memastikan bahwa proses rekonsiliasi di Myanmar akan dilakukan dengan cara-cara yang dipimpin dan diatur oleh Myanmar sendiri.
“Yang perlu ditekankan adalah untuk memastikan tidak ada lagi kekerasan dan bahwa rekonsiliasi nasional sejati dapat terwujud,” demikian Sekjen Kao.
Dalam KTT ke-48 ASEAN, para pemimpin ASEAN akhirnya mengizinkan kehadiran menteri luar negeri (menlu) dan diplomat Myanmar mengikuti agenda sampingan secara virtual dalam pertemuan tingkat menlu ASEAN mulai Juli.
Menurut sumber yang mengetahui masalah itu, seperti dikutip Kyodo, kelonggaran terhadap Myanmar itu dibuat setelah ASEAN menyesuaikan dengan struktur pemerintahan baru di Myanmar yang dipimpin Presiden Min Aung Hlaing, bekas pemimpin junta.
Sejak kudeta militer Myanmar pada Februari 2021, ASEAN melarang kehadiran pemimpin Myanmar dalam agenda organisasi itu sejak Oktober 2021.
Sementara dalam pertemuan tingkat menlu ASEAN di Cebu, Kamis (7/5), Thailand mengusulkan agar Myanmar diizinkan ikut serta dalam pertemuan lanjutan pada Juli mendatang.
Namun, menurut sumber tersebut, Singapura menentang usul Thailand itu dan menolak kehadiran menlu Myanmar dalam pertemuan utama secara langsung.
Baca juga: Prabowo tekankan penguatan dialog hadapi dinamika di kawasan ASEAN
Baca juga: ASEAN izinkan Myanmar ikuti agenda secara daring mulai Juli
Pewarta: Nabil Ihsan
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.