Lampung Selatan (ANTARA) - Delegasi program Sprint dari Timor Leste melakukan kunjungan pembelajaran ke sejumlah desa di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung guna mempelajari penguatan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim dan risiko bencana.

Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Selatan Supriyanto di Kalianda, Senin, mengatakan delegasi internasional dari Timor Leste melalui Program Strengthening Partnership for Community Resilience in Indonesia and Timor-Leste (Sprint II) datang untuk belajar langsung mengenai penguatan ketangguhan komunitas berbasis desa di wilayah tersebut.

“Lampung Selatan ini merupakan kabupaten yang sangat strategis. Jalur darat, laut maupun udara, semuanya ada di sini. Mudah-mudahan suasana dan pengalaman yang ada di sini bisa menjadi ruang untuk saling belajar dan saling melengkapi,” ujar Supriyanto.

Baca juga: Timor Leste tertarik pelajari pemberdayaan desa melalui SDGs Desa

Ia menjelaskan kunjungan itu menjadi bagian dari agenda pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara Indonesia dan Timor Leste dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana, sekaligus memperkuat pembangunan desa berkelanjutan melalui pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal.

“Selama berada di Lampung Selatan, delegasi dijadwalkan mengunjungi sejumlah desa dampingan program, yakni Desa Maja di Kecamatan Kalianda, Desa Canti dan Desa Rajabasa di Kecamatan Rajabasa, serta Desa Kelawi di Kecamatan Bakauheni,” kata dia.

Menurutnya, di lokasi tersebut delegasi akan melihat secara langsung berbagai praktik pemberdayaan masyarakat yang telah berjalan, mulai dari penguatan ketangguhan desa, pengurangan risiko bencana, hingga pengembangan mata pencaharian masyarakat berbasis potensi lokal.

Ia menyampaikan bahwa kunjungan ini menjadi momentum penting untuk mempererat kerja sama lintas negara sekaligus membuka ruang belajar bersama.

Menurut dia, kerja sama seperti ini tidak hanya memperkuat hubungan antar-wilayah, tetapi juga memperkaya pengalaman masing-masing negara dalam membangun masyarakat desa yang tangguh dan mandiri.

“Hal-hal baik dari Timor Leste silakan dibagikan kepada kami, begitu pula pengalaman baik dari Lampung Selatan mudah-mudahan dapat dibawa sebagai pembelajaran ke Timor Leste,” ujar dia.

Dalam kesempatan itu, Supriyanto juga memperkenalkan Lampung Selatan sebagai daerah dengan masyarakat yang majemuk, terdiri atas berbagai suku, agama, dan budaya yang hidup berdampingan secara harmonis.

Baca juga: 10 desa tangguh bencana dibentuk di perbatasan NTT-Timor Leste

Baca juga: Dukung pos perbatasan dengan Timor Leste, PLN pasok listrik 2 desa NTT

“Lampung Selatan memiliki masyarakat yang heterogen, namun dapat hidup dengan rukun dan damai. Ini menjadi bagian penting yang terus kita jaga bersama,” katanya.

Ia meminta seluruh perangkat daerah memberikan sambutan terbaik kepada delegasi internasional tersebut sebagai wujud keramahan Indonesia.

“Kita harus menunjukkan hal-hal baik yang kita miliki. Indonesia dikenal dengan keramahannya dan kesantunannya, sehingga itu harus terus kita tunjukkan kepada siapa pun,” ucapnya.

Diketahui, Program Sprint II merupakan kolaborasi internasional yang berfokus pada penguatan ketangguhan masyarakat pesisir melalui pembangunan desa berkelanjutan di Indonesia dan Timor Leste, dengan menitikberatkan pada pengurangan risiko bencana dan penguatan ekonomi masyarakat lokal.

Pewarta: Riadi Gunawan
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.