Kita bersyukur temuan suspek hantavirus di Kulon Progo dan warga negara asing di Jakarta yang masuk kontak erat klaster MV Hondius telah dinyatakan negatif. Namun, pemantauan dan surveilans harus terus diperkuat
Jakarta (ANTARA) - Ketua DPR RI Puan Maharani mengingatkan pemerintah agar pemantauan dan pengintaian (surveilans) hantavirus terus diperkuat meski sejumlah kasus suspek di beberapa daerah di Indonesia dinyatakan negatif.
“Kita bersyukur temuan suspek hantavirus di Kulon Progo dan warga negara asing di Jakarta yang masuk kontak erat klaster MV Hondius telah dinyatakan negatif. Namun, pemantauan dan surveilans harus terus diperkuat,” kata Puan dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Menurut dia, ancaman penyakit berbasis lingkungan kerap muncul di daerah dengan kapasitas layanan kesehatan dan pengawasan lingkungan yang belum merata. Karena itu, pemerintah diminta memperkuat kesiapan daerah dalam menghadapi potensi wabah.
“Termasuk kesiapan fasilitas kesehatan dan tenaga medis, laboratorium dan sarana penunjang lainnya, serta mekanisme deteksi dini dan pelaporan yang cepat. Tentunya perlindungan masyarakat di wilayah yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi harus menjadi perhatian,” ujarnya.
Baca juga: Puan minta pemerintah beri kepastian informasi soal hantavirus
Puan menekankan masyarakat perlu merasakan kehadiran negara sejak tahap awal munculnya ancaman kesehatan, bukan setelah kasus berkembang luas.
Ia mengatakan DPR melalui alat kelengkapan dewan terkait akan memastikan pemerintah bergerak cepat, terbuka, dan mampu memberikan rasa aman kepada masyarakat melalui langkah yang jelas serta dapat dipantau.
Menurut Puan, keberhasilan negara menghadapi ancaman kesehatan tidak hanya diukur dari rendahnya jumlah kasus, tetapi juga dari kemampuan menjaga ketenangan masyarakat.
“Juga dengan membangun kepercayaan publik dan memastikan setiap warga merasa terlindungi ketika menghadapi potensi risiko kesehatan baru,” katanya.
Baca juga: Kemenkes: Belum ada bukti penularan hantavirus ke manusia di RI
Kasus hantavirus belakangan menjadi sorotan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memantau wabah di kapal pesiar berbendera Belanda MV Hondius yang berlayar dari Argentina.
WHO menerima laporan wabah hantavirus di kapal tersebut pada 2 Mei 2026. Sebanyak tujuh orang dari total 147 penumpang dan awak kapal dilaporkan sakit dan tiga di antaranya meninggal dunia.
Dalam pernyataannya pada Selasa (5/5), WHO menyebut para korban kemungkinan telah terinfeksi sebelum naik ke kapal pesiar. Namun, kemungkinan penularan antarmanusia di atas kapal belum dapat dikesampingkan.
Baca juga: Bandara Soetta kembali terapkan standar kesehatan perjalan luar negeri
Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI pada Senin menyatakan hasil pemeriksaan terhadap warga negara asing yang tinggal di Indonesia dan berkontak erat dengan penumpang terjangkit hantavirus di kapal MV Hondius menunjukkan hasil negatif.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Minggu (10/5), juga menyatakan kasus suspek hantavirus pada seorang warga setempat negatif berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.
Baca juga: Kemenkes minta masyarakat jaga kebersihan, cegah penularan hantavirus
Pewarta: Fath Putra Mulya
Editor: Abdul Hakim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.