Purwokerto (ANTARA) - Derit roda kendaraan yang keluar masuk area parkir Pasar Pon, Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sudah puluhan tahun menjadi bagian dari keseharian Sucipto.
Di bawah terik matahari, guyuran hujan, hingga hiruk-pikuk pasar yang tak pernah benar-benar sepi, pria berusia 64 tahun itu setia mengatur kendaraan, sambil menggenggam peluit kecil di tangannya.
Dari pekerjaan yang bagi sebagian orang dipandang sederhana itulah, Sucipto perlahan merangkai mimpi besar: menunaikan rukun Islam kelima, yakni ibadah haji ke Tanah Suci.
Tak banyak yang menyangka, penghasilan rata-rata sekitar Rp50 ribu per hari sebagai tukang parkir, ditambah pekerjaan sambilan sebagai petugas jaga malam di kawasan perumahan pemda dengan upah Rp900 ribu per bulan, akhirnya mampu mengantarkan warga Kelurahan Sumampir, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, itu menuju Baitullah.
Pada 14 Mei mendatang, Sucipto dijadwalkan berangkat bersama rombongan calon haji dari Banyumas yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 73 melalui Embarkasi Solo. Sebuah perjalanan spiritual yang telah ia perjuangkan lebih dari satu dekade.
Bagi Sucipto, keberangkatan itu bukan sekadar perjalanan lintas negara, melainkan buah dari ribuan hari menahan keinginan, menyisihkan uang receh, dan menjaga keyakinan agar cita-cita itu tak padam oleh keterbatasan ekonomi.
“Profesi saya (tukang) parkir, kalau malam bantu jaga keamanan di perumahan. Dari situ saya nabung sedikit-sedikit,” kata Sucipto, saat ditemui di rumah sederhananya di Kelurahan Sumampir, Kecamatan Purwokerto Utara.
Rumah itu tampak ramai beberapa hari terakhir. Tetangga, kerabat, hingga warga dari lingkungan tempatnya bekerja datang silih berganti. Sebagian membawa doa, sebagian lain membawa rasa bangga.
Di sudut ruang tamu, koper berwarna gelap telah tertata rapi. Beberapa perlengkapan ibadah sudah dipersiapkan. Sucipto tinggal menunggu hari keberangkatan.
Perjalanan menuju titik itu sama sekali tidak singkat. Ia mengaku mulai menabung secara serius untuk berangkat haji sejak tahun 2012.
Saat itu, ketiga anaknya masih membutuhkan biaya pendidikan. Dalam kondisi ekonomi terbatas, Sucipto harus membagi penghasilannya untuk kebutuhan rumah tangga, sekolah anak, serta tabungan haji.
Setiap kali ada sisa uang, berapa pun nominalnya, ia sisihkan. Kadang hanya puluhan ribu rupiah. Kadang lebih, jika rezeki sedang baik.
“Kalau habis bayar sekolah anak-anak, ada sisa empat puluh ribu, lima puluh ribu, saya tabung. Sedikit-sedikit,” katanya.
Tabungan itu mula-mula ia simpan secara sederhana. Ketika jumlahnya dirasa cukup, ia memindahkannya ke rekening bank. Proses itu berlangsung berulang selama bertahun-tahun.
Namun, menabung saja ternyata belum cukup untuk memenuhi biaya setoran awal pendaftaran haji.
Di tengah perjuangannya, Sucipto mengambil keputusan besar. Ia menjual sebidang tanah miliknya untuk melengkapi biaya setoran awal sebesar Rp25,5 juta.
Keputusan itu bukan hal mudah karena tanah tersebut merupakan salah satu aset keluarga yang nilainya terus meningkat. Namun, bagi Sucipto, panggilan berhaji memiliki tempat istimewa di dalam hidupnya.
“Waktu itu saya punya tanah sedikit, saya jual. Buat nambah setoran awal,” katanya.
Sejak tahun 1999, Sucipto sudah bekerja di Pasar Pon. Lebih dari dua dekade ia mengenal denyut kehidupan pasar tradisional, pedagang yang datang sebelum subuh, pembeli yang berebut kebutuhan pokok, hingga kendaraan yang silih berganti memenuhi area parkir.
Di tempat itulah banyak orang mengenalnya. Sebagian memanggilnya Pak Sipto, sebagian lain sekadar menyapa dengan senyum dan anggukan.
Bagi para pedagang, ia bukan sekadar penjaga parkir, melainkan bagian dari keluarga besar pasar. Oleh karena itu, kabar keberangkatannya ke Tanah Suci cepat menyebar.
Ucapan selamat datang dari berbagai arah. Doa dipanjatkan oleh rekan kerja, pedagang pasar, hingga warga kompleks tempat ia menjaga keamanan pada malam hari.
Saat menceritakan hal itu, mata Sucipto tampak berkaca-kaca. “Kadang nelangsa, kadang senang. Warga perumahan pada bangga, nyelameti (memberikan selamat) saya. Tiga RT di sana ikut senang,” katanya.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.