Taman Nasional Gunung Ciremai ini disebut Tower Air di Jawa Barat. Ada 97 titik mata air yang tidak pernah surut dan kualitasnya sangat murni hingga layak minum langsung dari sumbernya
Kuningan, Jawa Barat (ANTARA) - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berkomitmen menjaga kelestarian tutupan vegetasi hutan di kawasan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) guna mempertahankan fungsi vitalnya sebagai "Tower Air" bagi empat kabupaten di Jawa Barat.
Kepala Balai TNGC Toni Anwar mengatakan kawasan konservasi seluas 14.841,3 hektare tersebut memegang peran ekologis besar dalam menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat di Kabupaten Kuningan, Majalengka, Cirebon, dan Indramayu.
"Taman Nasional Gunung Ciremai ini disebut Tower Air di Jawa Barat. Ada 97 titik mata air yang tidak pernah surut dan kualitasnya sangat murni hingga layak minum langsung dari sumbernya. Jika kondisi hutan berubah, maka masyarakat sekitar yang paling pertama terkena dampak krisis air," kata Toni di sela kegiatan forum "Sinergi Perempuan Indonesia Untuk Indonesia FOLU NET SINK 2030" Kemenhut di Kuningan, Jawa Barat, Selasa.
Baca juga: Kemenhut: Sektor kehutanan berkontribusi 60 persen penurunan GRK
Toni menjelaskan melalui upaya rehabilitasi yang konsisten, tutupan vegetasi di TNGC kini telah mencapai hampir 90 persen. Angka tersebut meningkat signifikan dari kondisi sebelum tahun 2004 yang sempat terbuka akibat beralih fungsi menjadi lahan pertanian sayur.
Selain fungsi hidrologis, TNGC menjadi habitat kunci bagi tiga spesies prioritas, yakni Elang Jawa, Macan Tutul, dan Surili. Keberadaan satwa-satwa tersebut menjadi indikator kesehatan lingkungan di gunung tertinggi di Jawa Barat itu.
"Munculnya Macan Tutul di kamera pemantau atau perjumpaan dengan Surili menunjukkan habitat di sini masih terjaga. Kami menyebut mereka akamsi atau anak kampung sini, penghuni asli yang harus kita lindungi bersama habitatnya," ucap Toni.
Pengelolaan taman nasional tersebut, menurutnya, memang berbasiskan gerakan masyarakat. Dalam hal ini warga menjadi garda terdepan karena menyadari hubungan timbal balik antara hutan yang lestari dengan kemajuan ekonomi melalui wisata yang menarik.
Baca juga: BTNGC canangkan pelepasliaran tiga elang ular bido di Gunung Ciremai
TNGC kini mengelola sebanyak 30 titik Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) dengan melibatkan masyarakat dari 54 desa penyangga, salah satunya Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur.
Warga setempat yang dulunya penggarap lahan kawasan taman nasional kini alih profesi menjadi pengelola wisata sebagai bentuk pemberdayaan. "Hubungan timbal balik antara hutan yang lestari dengan kemajuan ekonomi melalui wisata yang menarik," kata Toni.
Kegiatan Sinergi Perempuan Indonesia untuk Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 ini dilaksanakan pada 11-13 Mei 2026 di kawasan TNGC. Forum ini diikuti perwakilan kehumasan kementerian/lembaga, lembaga konservasi swadaya masyarakat, serta pewarta nasional.
Baca juga: Menjaga populasi elang jawa, sang penguasa langit di Gunung Ciremai
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.