Dapur atau SPPG yang menyebabkan gangguan pencernaan itu ternyata belum SLHS, belum punya IPAL (IPAL masih numpang atau di dapur sebelahnya), dan yang gila, tidak punya tempat cuci ompreng
Jakarta (ANTARA) - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang mengatakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 15 Pulo Gebang, Jakarta Timur, belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Nanik mengemukakan hal tersebut saat melakukan sidak pada hari Minggu (10/5) malam di SPPG yang menyajikan Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa Bakmi Djawa, dan diduga menjadi penyebab 147 anak mengalami gangguan pencernaan pada Jumat (8/5).
"Dapur atau SPPG yang menyebabkan gangguan pencernaan itu ternyata belum SLHS, belum punya IPAL (IPAL masih numpang atau di dapur sebelahnya), dan yang gila, tidak punya tempat cuci ompreng," kata Nanik dalam Instagram resmi @nanik_deyang dan @sidakbgn yang dikutip dari Jakarta, Selasa.
Nanik juga menemukan bahwa SPPG 15 Pulo Gebang, Jakarta Timur, tersebut ternyata milik satu orang (satu yayasan) yang memiliki dua dapur.
Baca juga: Legislator soroti pentingnya Ipal untuk pastikan kualitas-keamanan MBG
"Di dapur sebelah, saat saya datang masih beroperasi. Sementara yang sebelahnya tidak beroperasi karena sudah ditangguhkan (suspend) begitu ada kejadian hari Jumat. Terus, cuci omprengnya di mana? Numpang lagi dapur sebelahnya, dan yang gilanya lagi, tidak punya steam (alat pemanas) untuk cuci ompreng," ujar Nanik.
Dalam sidak tersebut, Nanik juga menemukan bahwa SPPG 15 Pulo Gebang tidak menggunakan galon dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) seperti yang disarankan oleh BGN.
"Saya enggak membayangkan, dua dapur, satu tempat cucian ompreng, tidak ada steam ompreng, seperti apa tingkat kejorokannya. Ditambah yang lebih parah, tidak menggunakan air galon ber-SNI seperti yang disarankan oleh BGN pusat," tuturnya.
Nanik juga menjelaskan 33 siswa yang sempat mengalami gangguan pencernaan sempat dirawat, namun pada hari Senin (11/5) kemarin sudah pulang ke rumah masing-masing.
Baca juga: BGN siap bertanggung jawab bagi korban keracunan MBG di Jaktim
BGN juga menyatakan telah memberikan surat edaran kepada SPPG yang belum memiliki juru masak atau chef andal agar tidak memasak menu mi.
"Karena seringnya mi bermasalah dengan gangguan pencernaan, kami dari BGN pusat sebetulnya sudah membuat surat edaran agar tidak memasak mi jika belum punya chef andal yang menguasai betul bagaimana teknik memasak mi agar tidak cepat basi. Kami juga sudah menyosialisasikan melalui kepala regional dan koordinator wilayah," tutur Nanik.
Diketahui pada hari Jumat (8/5), siswa terkena gangguan pencernaan setelah menyantap Bakmi Djawa, ayam suwir, pangsit tahu kukus, tauge rebus, timun, tomat, jamur krispi, dan buah semangka.
Baca juga: Cegah keracunan, BGN minta SPPG tak masak mi tanpa juru masak andal
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.