Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis neurologi lulusan Universitas Indonesia dr. Andre Sp.N mengatakan detak jantung yang tidak teratur atau yang dikenal sebagai atrial fibrilasi (AF) menjadi salah satu penyebab utama kasus stroke dengan penyumbatan pembuluh darah atau stroke iskemik.

“Atrial fibrilasi denyut jantungnya gak teratur sehingga terbentuk bekuan darah, turbulen terperangkap di jantung sehingga suatu saat dia bisa lepas masuk ke otak jadilah stroke,” kata Andre dalam diskusi mengenai stroke di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan stroke bisa terjadi secara tiba-tiba dan menyebabkan kecacatan dan kematian jika stroke berat. Stroke sumbatan atau iskemik bisa terjadi ketika otak yang seharusnya mendapatkan nutrisi dari darah yang dipompa oleh jantung tidak teraliri dengan baik karena terhambat yang disebabkan oleh atrial fibrilasi.

Baca juga: Ablasi kateter jadi metode efektif penanganan atrial fibrilasi

Andre menjelaskan detak jantung yang tidak normal menyebabkan terjadinya gumpalan darah sehingga menyumbat pembuluh darah yang seharusnya mengalirkan darah bernutrisi untuk otak. Gumpalan yang menghambat tersebut suatu saat bisa terlepas langsung menuju otak dari atrial fibrilasi yang tiba-tiba tinggi.

Jika gumpalan darah ini masuk ke dalam bilik jantung dan dipompa ke seluruh tubuh terutama ke pembuluh darah otak, maka dapat menyebabkan stroke akut. Stroke yang diakibatkan atrial fibrilasi biasanya lebih berat dan menyebabkan gejala sisa atau kecacatan yang lebih berat bahkan kematian jika dibandingkan dengan penyebab stroke lain.

Baca juga: Gejala atrial fibrilasi penyebab stroke yang jarang diwaspadai

Ia mengatakan stroke sumbatan bisa ditangani dengan waktu yang sesegera mungkin di bawah 4,5 jam untuk dimasukkan obat trombolisis agar sumbatan di pembuluh darah pecah dan meminimalisasi kecacatan akibat stroke. Kecepatan respons dapat menentukan sejauh mana pasien dapat diselamatkan

“Jadi tidak ada lagi istilahnya kalau stroke, dibiarin aja dulu mungkin itu kemasukan, mungkin itu kena angin duduk, dibiarin aja dulu sembuh sendiri, jangan! Segera ke rumah sakit,” kata Andre menegaskan.

Di samping itu, Andre mengatakan stroke bisa dicegah dengan mengendalikan faktor risiko melalui pola hidup sehat, seperti mengontrol tekanan darah, olahraga ringan lima kali seminggu minimal 30 menit, makan makanan sehat, kontrol kolesterol dan pertahankan berat badan.

Baca juga: Banyak pasien atrial fibrilasi Indonesia masih di usia produktif

Selain itu juga, dokter di RS Pondok Indah ini menyarankan untuk berhenti merokok dan melakukan deteksi dini risiko atrial fibrilasi atau adanya penyakit jantung.

Sementara untuk faktor risiko stroke yang tidak bisa diubah di antaranya usia berisiko stroke di atas 55 tahun, ras tertentu, jenis kelamin di mana perempuan lebih kecil risiko terkena stroke selama belum menopause dan pria cenderung lebih berisiko karena riwayat hipertensi, dan juga adanya riwayat stroke dalam keluarga.

Baca juga: Atrial fibrilasi miliki risiko 5 kali sebabkan serangan stroke iskemik

Baca juga: Dokter: Waspadai atrial fibrilasi bila sering merasa sempoyongan

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.