Jakarta (ANTARA) - Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyimpulkan bahwa Amerika Serikat melakukan miskalkulasi besar saat menyerang Iran, sehingga perang yang Washington harapkan selesai sekejap justru berlarut-larut dan berdampak besar bagi dunia.

Menurut sang dubes, Presiden AS Donald Trump percaya bahwa serangan langsung ke pucuk kepemimpinan Iran serta infrastruktur sipil maupun militer akan memicu pemberontakan masyarakat yang menggulingkan pemerintahan Republik Islam Iran.

“Kesalahan pertama adalah miskalkulasi, yaitu kalkulasi yang salah. Ia berpikir bahwa dengan dua atau tiga hari bisa menyelesaikan perang terhadap Iran, tetapi dia salah,” kata Boroujerdi dalam kuliah umumnya di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) di Jakarta, Rabu.

Dengan keyakinan tersebut, AS pun melancarkan serangan ke Iran bersama Israel pada 28 Februari, sehingga menyebabkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei serta puluhan figur penting pemerintahan Iran dan ribuan masyarakat sipil.

“Setelah itu, masyarakat memang benar turun ke jalan. Namun, mereka bukan turun untuk menggulingkan pemerintahan, melainkan untuk memberikan dukungan dan solidaritas bagi negaranya,” kata Boroujerdi.

Iran pun mampu melancarkan serangan balasan bertubi-tubi ke Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk, hingga gencatan senjata disepakati pada 8 April, ucap Dubes Iran.

Menurut Boroujerdi, Trump saat ini berupaya mencari peluang untuk “menyatakan kemenangan” dalam perang melawan Iran dengan membuka Selat Hormuz. Tetapi, menurut sudut pandang Iran, blokade Selat Hormuz terjadi atas sebab Trump sendiri, kata dia.

Seiring dengan berlanjutnya upaya perdamaian setelah gagalnya babak pertama negosiasi di Islamabad, Pakistan, Dubes mengharapkan agar kesepakatan yang tercapai dalam negosiasi berikutnya merupakan kesepakatan yang setara.

Ia pun mengharapkan agar negosiasi berhasil mencapai perdamaian permanen yang terjamin dengan komitmen AS dan Israel tak lagi menghimpun kekuatan untuk kembali menyerang Iran.

Ketegangan di Timur Tengah mengalami eskalasi menyusul serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari, yang memicu serangan balasan Iran terhadap Israel dan sekutu-sekutu AS di kawasan.

Adapun dalam perkembangan terbaru, pemerintah Iran mengajukan lima syarat kepada AS sebagai langkah “pemulihan kepercayaan” sebelum mereka mau kembali melakukan perundingan, menurut laporan kantor berita Fars, Selasa (12/5).

Baca juga: Dubes Boroujerdi: Iran dambakan perdamaian yang terjamin, menyeluruh

Baca juga: Kuwait kecam penyusupan Iran, Iran sebut klaim Kuwait "tak berdasar"

Pewarta: Nabil Ihsan
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.