Kisah start-up Neo Technology bantu bongkar Panama Papers

Kisah start-up Neo Technology bantu bongkar Panama Papers

Firma hukum Panama Mossack Fonseca menjadi sentral dari skandal penggelapan pajak tokoh-tokoh dan perusahaan-perusahaan dunia yang disebut dengan skandal "Panama Papers" (Reuters)

Saya tidak sedang berbisnis mencari uang dari delapan wartawan yang ingin menyelamatkan dunia, itu bukan model bisnis saya
Jakarta (ANTARA News) - Semua start-up (perusahaan teknologi pemula) mengharapkan keberuntungan besar menghampiri mereka dan  start-up asal Swedia Neo Technology mendapatkan keberuntungan besar itu tepat pada hari ketika Panama Papers menjadi pemberitaan besar di seluruh dunia.

Para wartawan yang memiliki akses ke data maha banyak itu menggunakan database open-source milik Neo Technology untuk melogiskan 11,5 juta dokumen yang di antaranya terdiri dari email, foto dan spreadsheet (rancang lembar kerja) yang dibocorkan dari firma hukum Panama Mossack Fonseca.

"Database grafik" milik Neo Technology itu secara harafiah menghubungkan titik-titik kepada para jurnalis investigatif sehingga membantu mereka menemukan nama-nama orang kaya dan berkuasa serta kaitannya dengan akun-akun di luar negeri (offshore).

"Saya terpesona,” kata pendiri dan CEO Neo Technology Emil Eifrem mengenai bagaimana Konsorsium Wartawan Investigatif Internasional (ICIJ) telah menggunakan produknya untuk membedah Panama Papers, beberapa jam sebelum skandal disiarkan.

"Itu laksana sweet spot (titik tepat di tengah pusat lingkaran) untuk teknologi kami bahwa kami memiliki preseden yang sangat terang benderang," kata pria Swedia berusia 37 tahun yang merilis proyek software gratis pertamanya saat masih berusia 16 tahun itu kepada Reuters.

"Sudah sejak lama hal ini dianggap seksi oleh para geek (jenius internet). Namun kini semua orang tiba-tiba bisa membahasnya, dengan orang lain sekalipun," sambung dia.

Sebuah tim ICIJ bekerja secara rahasia selama setahun penuh untuk meneliti dokumen-dokumen yang berperiode masa empat dekade yang menyingkapkan fakta di balik skema keuangan milik elite dunia yang menyebabkan kemarahan publik sedunia itu.

Ketika kebanyakan database menggunakan pencarian tabulatif yang bisa menemukan semua dokumen yang merujuk ke sebuah nama, database grafis --bayangkan jaring sarang laba-laba-- membantu mengungkapkan semua kaitan antara nama-nama itu dengan dokumen-dokumen Panama Papers.

"Anda mungkin melihat kaitan seorang perdana menteri dengan satu alamat, dan di alamat itu orang yang berbeda tinggal di sana yang terhubung ke sebuah akun mencurigakan," kata Eifrem, yang berbicara dari Lembah Silikon. "Itu adalah 1,2,3,4 lompatan yang mustahil dicapai teknologi lain.”

Teknologi sebagai kunci

Editor data dan unit riset ICIJ Mar Cabra mengatakan database Neo Technology menjadi kunci dalam menginvestigasi Panama Papers.

2,6 juta terabyte data itu begitu besar sampai laman berita sains Live Science pernah mengatakan perlu waktu sekitar 41 tahun untuk dicetak secara nonstop oleh sebuah printer laser.

Teknologi menjadi sangat penting dalam menuntun ke petunjuk-petunjuk baru di gunungan data sebanyak itu.

Nuix Pty Ltd, perusahaan pengembang kecil IT dari Australia, menyediakan software yang membuat jutaan dokumen yang sudah terpindai bisa terpetakan secara tekstual.

Didirikan pada 2007 di Kota Malmo di Swedia selatan, Neo Technology kini bermarkas besar di San Mateo, California, dan mempekerjakan sekitar 120 orang.

Saat ini perusahaan ini memiliki sekitar 200 klien berbayar, mulai dari Walmart dan eBay sampai grup perbankan seperti UBS.

Teknologi perusahaan ini khususnya populer di kalangan retailer online yang memanfaatkannya untuk memberikan rekomendasi personal konsumennya berdasarkan apa yang mereka beli. Di bank, teknologi ini digunakan untuk identitas dan manajemen akses serta mencegah penipuan.

Eifrem membolehkan wartawan-wartawan investigatif menggunakan versi cuma-cuma dari software-nya ini.

"Saya tidak sedang berbisnis mencari uang dari delapan wartawan yang ingin menyelamatkan dunia, itu bukan model bisnis saya," kata dia tertawa.

Kendati belum menjadi perusahaan berprofitabilitas, start-up ini sudah menghasilkan pendapatan dari edisi komersialnya yang lebih aman dan menawarkan skalabilitas dan ketersediaan yang masif.

Eifrem yakin perusahaannya bisa mencapai profitabilitas pada  2017 dan pasti membutuhkan dana lebih banyak untuk mencapai ke tingkat itu.

Tahun lalu perusahaan pemula ini berhasil menarik modal 20 juta dolar AS dari perusahaan-perusahaan modal ventura seperti Creandum, Fidelity Growth Partners Europe dan Sunstone Capital.

Impian Eifrem adalah mencatatkan saham perusahaannya di bursa Nasdaq atau NYSE (bursa saham New York), mungkin dalam dua atau tiga tahun ke depan, kendati dia khawatir bakal menjadi target akuisisi para raksasa software seperti Oracle atau Microsoft yang sedang bergerak menggeluti database grafik.

"Kami tidak dijual. Kami bisa saja sangat bagus untuk diakuisisi suatu hari nanti, tetapi itu bukan impian kami," kata Eifrem.

Eifrem yang beristrikan wartawati itu adalah penggemar fanatik film The Matrix yang karakter utamanya bernama Neo, seorang peretas komputer yang berusaha membebaskan manusia dari realitas maya.

Eifrem berapi-api ketika membicarakan masa depan jurnalisme investigatif yang katanya sebagian besar menggantungkan diri kepada penambangan data.

"Saya menunggu untuk menyaksikan hal itu terjadi," tutup Eifrem seperti dikutip Reuters.

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar