Tirto menerapkan apa yang saat ini dikenal dengan istilah jurnalisme advokasi yakni membela kaum tertindas melalui jurnalistik.

Jakarta (ANTARA) - Nama Tirto Adhi Soerjo (1880 – 1918) masih bisa dikenang, setidaknya melalui dua penanda Pertama pada seruas nama jalan di Kota Bogor, yang mengabadikan namanya. Kedua, ketika nama Tirto diadopsi sebagai nama sebuah media online.

Bila nama Tirto Adhi Soerjo (Tirto) dijadikan nama jalan di Kota Bogor, selain sebagai bentuk penghargaan terhadap Tirto sebagai tokoh pers nasional, kebetulan makamnya sendiri berada di Kota Bogor (pemakaman Tanah Sereal).

Itu sebabnya peresmian nama jalan tersebut bertepatan dengan Hari Pahlawan (10 November) 2021.

Bisa dikatakan Tirto termasuk jurnalis pribumi yang paling awal menggunakan media cetak (surat kabar) untuk menyampaikan gagasan dan membentuk opini publik, termasuk bagaimana bersikap kritis terhadap kekuasaan, dalam hal ini pemerintah kolonial.

Tirto memberikan pelajaran penting, bagaimana pers dan literasi mampu menjadi energi tambahan dalam mendorong perubahan.

Mungkin ini yang menjadi inspirasi jurnalis generasi now, baik yang bergabung di media online, maupun media platform lainnya, termasuk media sosial.

Tirto dan Kebangkitan Nasional

Tirto juga memberikan andil besar dalam pergerakan nasional Indonesia yang semakin berkembang sejak awal abad ke-20. Di tengah tekanan rezim kolonial, ia telah memikirkan dan menyuarakan gagasan tentang kebangsaan serta kesadaran sebagai satu bangsa.

Pada tanggal 20 Mei 1908, Tirto bersama para siswa STOVIA lainnya yang diprakarsai oleh Wahidin Sudirohusodo, mendeklarasikan Boedi Oetomo. Secara kebetulan Tirto juga sempat belajar di STOVIA, namun tidak selesai, karena lebih tertarik pada dunia pergerakan dan jurnalistik.

Sedikit mundur ke tahun 1905, berbarengan dengan tokoh sekolah dokter Jawa STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artchen) di Batavia, Wahidin Suedirohusodo, Tirto mengunjungi para kenalannya, untuk menggagas dibentuknya sebuah perhimpunan.

Sebelum Boedi Oetomo dideklarasikan pada 20 Mei 1908, Tirto Adhi Soerjo sudah membentuk Sarekat Prijaji pada 1906.

Dengan mendeklarasikan berdirinya Sarekat Prijaji (SP), itu artinya Tirto berkontribusi mendirikan organisasi kebangsaan Indonesia pertama yang hadir di Hindia Belanda.

Sementara Wahidin dan para aktivis dari STOVIA lainnya baru mencetuskan Boedi Oetomo (BO) pada 20 Mei 1908.

Terbentuknya SP diumumkan melalui edaran di surat kabar berbahasa Melayu yang terbit di berbagai wilayah Hindia Belanda. Dalam pengumuman itu disebutkan bahwa telah berdiri sebuah perhimpunan yang mewadahi para priyayi dan bangsawan pribumi dengan tujuan memajukan anak negeri melalui pendidikan.

Namun, kebersamaan Tirto dengan Boedi Oetomo tidak berlangsung lama. Tirto memilih mundur karena menilai organisasi tersebut hanya akan “mengangkat lapisan yang di atas-atas saja”.

Baca juga: Pemkot Bogor abadikan RM Tirto Adhi Soerjo untuk nama jalan

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.