Jayapura (ANTARA) - Menjaga ketersediaan pangan di wilayah Tanah Papua bukan pekerjaan mudah, di mana kondisi medan dan akses transportasi masih terbatas. Belum lagi faktor cuaca yang menjadi tantangan besar dalam memastikan kebutuhan pokok tetap tersedia bagi masyarakat.
Dengan keterbatasan tersebut, pemerintah, melalui Bulog yang merupakan badan usaha milik negara (BUMN), harus hadir menjangkau masyarakat, hingga ke wilayah Tertinggal, Terluar, dan Terdepan (3T) di Tanah Papua.
Salah satunya di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan. Moda transportasi udara menjadi pilihan utama dan untuk banyak distrik, menjadi satu-satunya pilihan pendistribusian logistik. Pesawat perintis menjadi sarana pengangkut bahan pangan dari Jayapura menuju Oksibil, ibu kota Pegunungan Bintang. Hanya saja untuk penerbangan sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Oksibil menjadi pusat aktivitas masyarakat, sekaligus titik utama distribusi logistik ke distrik-distrik lain di kawasan pegunungan. Meski menjadi pusat pemerintahan, Oksibil tetap menghadapi tantangan besar dalam hal akses pangan.
Sebagian besar kebutuhan pokok masyarakat di daerah itu masih didatangkan dari luar daerah. Jalur distribusi utama mengandalkan transportasi udara karena akses darat belum tersedia, sehingga kawasan tersebut seperti terisolir dari wilayah lainnya. Ketika cuaca buruk, penerbangan kerap tertunda, bahkan dibatalkan, sehingga distribusi bahan pangan ikut terganggu.
Dengan kondisi geografis tersebut membuat harga kebutuhan pokok di Oksibil jauh lebih mahal dibanding wilayah perkotaan di Papua maupun daerah lain di Indonesia. Tidak jarang masyarakat harus membeli beras dengan harga tinggi akibat biaya pengangkutan yang mahal, bahkan mencapai Rp1 juta untuk 50 kilogram beras medium.
Meski demikian, pemerintah, melalui Perum Bulog, terus berupaya menjaga ketersediaan pangan di wilayah pegunungan tersebut. Distribusi Program Bantuan Pangan (PBP) dan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menjadi salah satu langkah untuk memastikan masyarakat tetap memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.
Bagi warga Oksibil, keberadaan pasokan pangan dari Bulog, kini mulai dirasakan lebih baik dibanding beberapa tahun lalu.
"Beras Bulog baru masuk ke Oksibil pada 2025," kata salah satu masyarakat Oksibil Antium Uopinabin.
Menurut Antium yang merupakan seorang petani di Desa Asua, Distrik Kiwirok, kini masyarakat mulai bergantung pada kelancaran distribusi beras, yang mana sebagian besar kebutuhan pokok tidak diproduksi sendiri di wilayah tersebut. Karena itu, keterlambatan distribusi sangat berpengaruh terhadap harga dan ketersediaan barang di pasar.
"Harga beras di sini rata-rata Rp40-60 ribu per kilo, tergantung jenisnya. Untuk itu masyarakat sangat menanti masuknya beras dari PBP,” ujar bapak tiga anak itu.
Bantuan yang didapatkan masyarakat dari PBP bukan hanya beras, namun ada juga minyak goreng. Untuk itu, meski menghadapi tantangan tersebut, masyarakat menilai program bantuan pangan pemerintah sangat membantu kehidupan mereka sehari-hari. Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, bantuan beras menjadi penopang kebutuhan pokok rumah tangga.
Hal senada disampaikan Maria Wenda, seorang ibu rumah tangga di Oksibil, yang mana masyarakat merasakan perhatian pemerintah terhadap kebutuhan pangan di wilayah pegunungan.
"Saya baru dapat dua kali bantuan ini, sebelumnya tidak dapat,” ujarnya.
Dengan bantuan ini mama Maria sangat terbantu karena mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk membeli minyak goreng. Selain itu, kini anak-anak mulai mengenal beras, selain umbi-umbian yang biasa dimakan.
Kata ibu dari empat orang anak tersebut, kualitas beras yang didapatkan sangat baik, bersih, dan rasanya juga enak. Untuk itu pihaknya selalu menunggu pengiriman beras.
Bagi masyarakat Oksibil, persoalan harga bahan pangan masih menjadi tantangan utama. Tingginya biaya transportasi membuat harga beras dan kebutuhan pokok lainnya sering mengalami kenaikan.
Maria berharap distribusi pangan dapat semakin rutin dan menjangkau seluruh kampung yang berada jauh dari Distrik Oksibil.
"Harapannya pengiriman bisa lebih rutin dan harga lebih stabil. Kami juga berharap ada tambahan bantuan untuk kampung-kampung yang jauh dari Kota Oksibil supaya semua masyarakat bisa merasakan manfaatnya," katanya.
Untuk mendapatkan PBP tersebut biasanya masyarakat mendapat informasi dari pemerintah melalui aparat kampung atau distrik dan semua warga langsung berdatangan membantu menyalurkan ke kampung-kampung dengan berjalan kaki.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.