Mungkin inilah ironi paling menarik dari kenaikan harga plastik. Ketika plastik menjadi mahal, masyarakat justru mulai menyadari bahwa selama ini terlalu banyak nilai yang dibuang begitu saja ke tempat sampah.
Surabaya (ANTARA) - Pagi di sebuah tempat penampungan sementara (TPS) di Kota Surabaya tak lagi sama. Tumpukan botol air mineral, gelas plastik, dan kantong kresek kini tidak sepenuhnya dianggap sampah.
Di sudut-sudut tempat penampungan, plastik justru menjadi rebutan. Ada yang menunggu gerobak datang, ada yang membongkar karung demi mencari botol bening bernilai tinggi. Sampah yang dulu dihindari mendadak berubah menjadi komoditas.
Kenaikan harga plastik di pasaran dalam beberapa bulan terakhir memunculkan ironi sekaligus peluang. Di satu sisi, mahalnya bahan plastik membebani pelaku usaha dan UMKM karena ongkos kemasan meningkat. Namun di sisi lain, situasi ini membuka ruang ekonomi baru bagi warga kota melalui pemilahan sampah dari rumah.
Fenomena itu terlihat nyata di Surabaya. Pemerintah Kota Surabaya mulai mendorong warga membangun ekosistem bank sampah berbasis RT dan RW. Langkah ini bukan sekadar urusan kebersihan kota, melainkan bagian dari upaya mengubah cara masyarakat memandang sampah.
Selama bertahun-tahun, sampah di banyak kota Indonesia diposisikan sebagai masalah akhir. Setelah dibuang, urusan dianggap selesai. Padahal, sebagian besar sampah rumah tangga masih memiliki nilai ekonomi. Ketika harga plastik naik, kenyataan itu menjadi semakin terlihat.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan Indonesia menghasilkan puluhan juta ton sampah setiap tahun dan sekitar seperlimanya berupa plastik. Persoalannya bukan hanya pada jumlah, melainkan rendahnya tingkat pemilahan sejak dari rumah. Akibatnya, sampah bercampur dan kehilangan nilai ekonominya.
Di Surabaya, kenaikan harga plastik justru memperlihatkan sesuatu yang selama ini tersembunyi. Ternyata ada rantai ekonomi besar di balik botol bekas dan kantong kresek yang dibuang setiap hari.
Baca juga: Pemerintah pastikan jaga dampak fluktuasi plastik bagi harga pangan
Baca juga: Wamendag: Pemerintah kaji pemberian subsidi bagi industri plastik
Cuan di tengah krisis
Kenaikan harga plastik global dipicu banyak faktor. Harga energi dunia meningkat, pasokan bahan baku terganggu, dan industri daur ulang internasional mengalami tekanan. Dampaknya terasa hingga ke tingkat lokal.
UMKM mulai mengeluhkan ongkos kemasan yang naik hingga puluhan persen. Produk makanan dan minuman yang sebelumnya menggunakan plastik murah kini menghadapi biaya produksi lebih tinggi. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini bisa berujung pada kenaikan harga barang konsumsi.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.