Ketika masyarakat bersedia memberikan data yang benar dan lengkap, sesungguhnya kita sedang membantu negara menyusun peta ekonomi Indonesia yang lebih akurat dan relevan dengan tantangan masa depan

Jakarta (ANTARA) - Dunia sedang bergerak dalam lanskap yang semakin tidak pasti. Perang dagang, fragmentasi rantai pasok global, perlambatan ekonomi dunia, hingga disrupsi teknologi digital membuat perubahan berlangsung jauh lebih cepat dibanding satu dekade lalu.

Pola konsumsi berubah, jenis pekerjaan baru bermunculan, dan model bisnis konvensional perlahan tergeser oleh ekonomi berbasis platform.

Dalam situasi seperti ini, negara tidak bisa lagi mengandalkan asumsi lama untuk merancang kebijakan masa depan. Pembangunan membutuhkan fondasi yang jauh lebih penting, data yang akurat, relevan, dan mampu membaca perubahan zaman.

Di sinilah Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) menemukan makna strategisnya.

Sensus Ekonomi 2026 bukan sekadar kegiatan pendataan rutin yang dilakukan setiap sepuluh tahun. Sensus ini adalah instrumen navigasi nasional untuk memastikan bahwa arah pembangunan ekonomi Indonesia benar-benar berpijak pada realitas terbaru. Tanpa data yang kuat, negara ibarat kapal besar yang bergerak tanpa kompas.

Dalam ekonomi modern, data bahkan sering disebut sebagai the new oil. Namun berbeda dengan minyak, nilai data tidak terletak pada kepemilikannya semata, melainkan pada kemampuan mengolahnya menjadi pengetahuan dan kebijakan yang tepat sasaran.

Ekonom pemenang Nobel Ronald Coase pernah mengingatkan, “If you torture the data long enough, it will confess.” Kutipan itu mengandung pesan mendalam bahwa kualitas kebijakan sangat bergantung pada kualitas data dan cara negara membacanya. Data yang lemah akan menghasilkan diagnosis yang keliru, dan diagnosis yang keliru hampir selalu melahirkan kebijakan yang tidak efektif.

Karena itu, statistik sesungguhnya bukan sekadar kumpulan angka. Statistik adalah kompas pembangunan.

Indonesia saat ini sesungguhnya memiliki modal ekonomi yang cukup kuat. Di tengah tekanan global, pertumbuhan ekonomi nasional tetap relatif terjaga di kisaran 5 persen. Tingkat pengangguran terus menurun, inflasi relatif terkendali, dan angka kemiskinan menunjukkan tren perbaikan. Ketahanan ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi nasional cukup tangguh menghadapi berbagai guncangan global.

Namun di balik capaian tersebut, terdapat transformasi struktural yang bergerak sangat cepat dan sering kali belum sepenuhnya tertangkap oleh instrumen statistik konvensional.

Hari ini, tantangan pembangunan tidak lagi sekadar menghitung berapa besar produk domestik bruto yang tercipta. Tantangan sesungguhnya adalah memahami bagaimana ekonomi berubah secara eksponensial. Dunia usaha kini bergerak semakin cair, fleksibel, dan terdigitalisasi.

Ekonom Dani Rodrik menyebut fenomena ini sebagai konsekuensi dari hyper-globalization; ketika integrasi ekonomi global membuat guncangan di satu kawasan dengan cepat merambat ke negara lain. Dampaknya terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Pelaku UMKM kini harus bersaing di pasar digital yang berubah sangat cepat, pekerja informal semakin bergantung pada platform daring, dan perubahan perilaku konsumen dapat menggeser pasar hanya dalam hitungan bulan.

Baca juga: Ketika angka menjadi arah kota

Aplikasi digital

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.