Jika Indonesia ingin tumbuh bukan hanya cepat, tetapi juga bertahan lama, maka mengenali kekayaan hayatinya bukanlah agenda pelengkap di pinggir pembangunan
Jakarta (ANTARA) - Di banyak negara berkembang, pembangunan biasanya dibaca melalui angka pertumbuhan, ekspansi industri, atau percepatan infrastruktur. Indonesia tidak terkecuali.
Di tengah ambisi mempercepat hilirisasi, memperkuat transisi energi, dan membangun fondasi ekonomi jangka panjang, negeri ini terus mengubah lanskapnya dalam skala yang semakin besar.
Namun di balik optimisme itu, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih mendasar. Seberapa jauh Indonesia sungguh mengenali kehidupan yang tumbuh, bergerak, dan bertahan di seluruh bentang alam yang sedang diubah itu?
Pertanyaan ini penting karena pembangunan pada akhirnya bukan sekadar membangun di atas tanah, melainkan mengintervensi sistem kehidupan yang hidup di dalamnya.
Di titik inilah kerja mendokumentasikan biodiversitas menemukan makna strategisnya. Selama bertahun tahun, kerja ini berlangsung nyaris tanpa sorotan. Ia bergerak di laboratorium, tersimpan di lemari koleksi herbarium, menembus ceruk karst, hutan tropis, hingga bentang pegunungan yang sulit dijangkau.
Itu kerja sunyi namun menentukan arah. Melalui kerja inilah Indonesia perlahan memahami ulang lanskap hidup yang menopang keberadaannya sendiri.
Dalam beberapa tahun terakhir, upaya itu mulai menunjukkan hasil yang semakin nyata. Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama berbagai mitra penelitian melaporkan rekaman baru sepuluh spesies anggrek dari berbagai wilayah Indonesia.
Peneliti juga berhasil mengidentifikasi keong darat endemik dari bentang karst Sumatera Selatan, mendeskripsikan spesies baru tumbuhan homalomena dari Sumatera, serta mengungkap subspesies tanaman bisbul dari Papua.
Ekspedisi biodiversitas di kawasan timur Indonesia pun semakin diperluas untuk menjangkau wilayah-wilayah yang sebelumnya minim dokumentasi ilmiah.
Bagi publik, temuan seperti ini mungkin terdengar sebagai kabar akademik biasa. Namun, maknanya jauh melampaui itu. Setiap spesies yang berhasil diidentifikasi bukan sekadar tambahan katalog ilmiah global. Ia adalah penanda bahwa kehidupan itu ada, menempati ruang ekologis tertentu, dan karena itu patut masuk ke dalam pertimbangan pembangunan.
Di sinilah dokumentasi biodiversitas berubah dari kerja ilmiah menjadi pijakan penting bagi kedaulatan ekologis. Negara yang mempercepat perubahan ruang hidup tanpa pengetahuan biodiversitas yang memadai pada dasarnya sedang mengambil keputusan strategis dengan peta informasi yang belum utuh.
Ia mengubah bentang alam dengan asumsi bahwa apa yang belum diketahui belum cukup penting untuk diperhitungkan. Padahal, justru di ruang-ruang yang belum terbaca itulah risiko terbesar sering tersembunyi.
Ironisnya, semakin banyak spesies baru ditemukan, semakin jelas bahwa pengetahuan Indonesia tentang kekayaan ekologinya sendiri masih jauh dari lengkap.
Skala ketidaktahuan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.