Pemerintah optimistis masuknya investasi baru, khususnya di sektor energi dan teknologi penyimpanan energi, akan semakin meningkatkan daya saing KEK Palu

Jakarta (ANTARA) - PT Bangun Palu Sulawesi Tengah bersama Aslan Energy Capital mulai mengembangkan proyek Battery Energy Storage System (BESS) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu, Sulawesi Tengah.

Proyek tersebut ditargetkan menyerap investasi sekitar 1,75 miliar dolar AS atau setara Rp30 triliun.

“Pemerintah optimistis masuknya investasi baru, khususnya di sektor energi dan teknologi penyimpanan energi, akan semakin meningkatkan daya saing KEK Palu serta menciptakan multiplier effect bagi pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional,” ujar Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK Rizal Edwin Manansang dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.

Sebagai informasi, BESS merupakan teknologi sistem penyimpanan energi berskala besar yang menggunakan baterai untuk menangkap, menyimpan, dan melepaskan energi listrik. Sistem ini dapat menyimpan listrik dari berbagai sumber seperti panel surya, turbin angin, atau jaringan listrik utama untuk digunakan kapan saja.

Dimulainya pembangunan proyek BESS di KEK ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua perusahaan.

Penandatanganan MoU tersebut menjadi langkah awal investasi strategis pengembangan BESS Gigafactory dan ekosistem industri energi bersih di KEK Palu. Proyek ini dirancang untuk mendukung pengembangan industri baterai berbasis nikel sekaligus memperkuat rantai pasok energi bersih dan kendaraan listrik di Indonesia.

Investasi proyek akan dikembangkan secara bertahap. Pada fase awal, fasilitas ditargetkan memiliki kapasitas produksi sekitar 8 GWh per tahun dan berpotensi meningkat hingga 12–15 GWh pada tahap ekspansi berikutnya.

Selain memproduksi sistem penyimpanan energi skala besar, proyek ini juga diarahkan untuk mendukung integrasi energi terbarukan, infrastruktur pengisian kendaraan listrik, hingga pasar ekspor ke kawasan ASEAN, Australia, dan Amerika Serikat.

Selain fasilitas baterai, proyek tersebut juga akan mencakup pengembangan LNG Hub.

Pengembangan proyek BESS Gigafactory diproyeksikan mampu menciptakan sekitar 1.300 lapangan kerja langsung dan lebih dari 3.000 pekerjaan tidak langsung melalui rantai pasok industri serta sektor pendukung lainnya.

Kehadiran investasi ini diharapkan memperkuat posisi KEK Palu sebagai pusat hilirisasi industri berbasis energi bersih di Indonesia timur sekaligus mendorong pemanfaatan potensi nikel Sulawesi Tengah dalam rantai pasok baterai global.

"Kami berharap MoU ini dapat segera direalisasikan, dan kami di Sekretariat Jenderal Dewan Nasional KEK akan terus mendukung serta mengawal proses implementasinya agar KEK Palu dapat memberikan manfaat nyata yang lebih besar bagi perekonomian nasional,” tutur Edwin.

Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Palu Hadianto Rasyid menilai investasi tersebut penting bagi pengembangan ekonomi daerah.

“Investasi ini sangat penting khususnya bagi Kota Palu karena akan membawa multiplier effect yang besar. Dari sisi pemerintah, dampaknya tentu pada penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pertumbuhan ekonomi Kota Palu ke depan,” ujarnya.

KEK Palu merupakan kawasan industri di Sulawesi Tengah yang dikembangkan untuk mendukung industri berbasis sumber daya alam, logistik, manufaktur, serta energi dan hilirisasi.

Dengan luas mencapai 1.500 hektare dan didukung konektivitas Pelabuhan Pantoloan, KEK Palu dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung perdagangan domestik maupun ekspor di kawasan Indonesia Timur.

CEO Aslan Energy Capital (AEC) Muthu Chezian mengatakan, pihaknya telah mempelajari kawasan tersebut dalam waktu cukup lama sebelum memutuskan berinvestasi di KEK Palu.

Menurut dia, ketersediaan sumber daya alam menjadi faktor utama penarik investasi, ditambah kebijakan Indonesia yang mendorong pengolahan nikel di dalam negeri.

Muthu juga memandang Indonesia memiliki posisi strategis di tingkat global dan potensi besar dalam mendukung pengembangan pusat data.

“Kami juga melihat potensi besar untuk mendukung data center. Saat ini banyak pusat data mulai beralih dari sistem UPS tradisional menuju penggunaan BESS karena dapat meningkatkan standar pusat data dari tier 2 menjadi tier 3 atau bahkan tier 4,” katanya.

Sementara, Presiden Direktur PT Bangun Palu Sulawesi Tengah selaku Badan Pengelola dan Pengembang KEK Palu Sony Panukma Widianto menyatakan kesiapan perusahaan mendukung kebutuhan lahan industri sekitar 40 hektare untuk pembangunan gigafactory tersebut.

“Kami siap menyediakan dukungan infrastruktur dan fasilitas yang diperlukan agar ekosistem industri ini dapat berkembang secara optimal,” ujar Sony.

Pemerintah sendiri berharap proyek tersebut dapat segera direalisasikan dan memberikan dampak nyata terhadap perekonomian nasional.

Baca juga: Bahlil: Pemerataan investasi perlu dilakukan guna percepat pertumbuhan

Baca juga: Pabrik baterai EV di Karawang ditargetkan mulai operasi pada Q3 2026

Baca juga: Komisi XII DPR: Baterai produksi Karawang atasi kendala PLTS di Kupang

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.