Guiyang (ANTARA) - Di dalam Gua Burung Walet (Swallow Cave) di wilayah Guiding, Provinsi Guizhou, China barat daya, dunia digital lenyap. Sinyal ponsel hilang hanya 100 meter setelah masuk, menyisakan suara tetesan air yang berirama dan napas berat para penjelajah.

Setelah 30 menit merangkak dan memanjat di sepanjang dinding batu yang licin, para penjelajah mencapai titik istirahat sementara. Dengan punggung bersandar pada batu yang dingin dan stalaktit aneh yang menggantung di atas kepala, mereka mendapati diri berhadapan langsung dengan fosil kuno yang tertanam di bebatuan.

"Diskoneksi bawah tanah" inilah yang dicari oleh semakin banyak wisatawan muda China. Guizhou, sebuah provinsi yang terkenal dengan bentang alam karstnya, sedang menyaksikan industri pariwisatanya menjelajah lebih dalam, secara harfiah bergerak dari aktivitas tradisional di objek wisata terkenal ke petualangan imersif di pedesaan terpencil.

Angka yang tercatat menunjukkan pertumbuhan pesat. Selama masa uji coba delapan hari di sekitar liburan Hari Buruh (May Day) tahun ini, Swallow Cave menyambut lebih dari 300 penjelajah.

Yang menarik, sebuah "kafe gua" di Distrik Xixiu, Kota Anshun, mencatat pendapatan lebih dari 3 juta yuan (1 yuan = Rp2.576) atau sekitar 438.500 dolar AS (1 dolar AS = Rp17.496) hanya dalam tiga bulan setelah pembukaannya, sekaligus menarik lebih dari 9.000 pengunjung selama libur Hari Buruh.

Profil geologi unik Guizhou menyediakan panggung sempurna bagi "ekonomi pengalaman" (experience economy). Survei tahun 2025 oleh departemen sumber daya alam tingkat provinsi mengidentifikasi 42.800 pintu masuk gua di seluruh provinsi tersebut. Guizhou juga menjadi lokasi Gua Shuanghedong (Sungai Kembar), gua terpanjang di Asia dengan panjang 437,1 km, yang setiap tahun menarik para ilmuwan dari seluruh dunia.

"Saat saya mulai memimpin ekspedisi gua pada 2018, minat di kalangan wisatawan tergolong kecil," kata Song Yuanqiao, kepala proyek pengembangan Swallow Cave. Dia mengungkapkan bahwa jumlah permintaan informasi meningkat tajam sejak 2023.

Gua Shilongdong di Qingzhen, Guiyang, yang resmi dibuka pada Agustus 2024, menawarkan aktivitas selancar dayung (paddleboarding) di sungai bawah tanah. Dengan harga tiket 1.280 yuan, proyek ini menerima lebih dari 13.000 pengunjung pada 2025, menghasilkan pendapatan melampaui 10 juta yuan.

Tim di balik Gua Shilongdong mereplikasi model mereka di Gua Huangheying di Anshun pada Mei tahun ini. Gua tersebut memiliki sungai bawah tanah langka sepanjang 2,5 kilometer yang dapat dilalui.

"Banyak wisatawan datang khusus untuk pengalaman 'arung jeram bawah tanah,'" kata Ning Jie, manajer proyek di Gua Huangheying.

Untuk memastikan keamanan pengalaman tersebut, para pengembang seperti Song dan direktur teknis Zhao Fei, yang sama-sama merupakan veteran petugas penyelamat gua, telah bepergian ke luar negeri untuk mempelajari desain rute dan standar keselamatan. Swallow Cave yang baru dikembangkan tersebut kini dilengkapi alat bantu panjat terstandardisasi, luncur gantung, dan jembatan baja.

"Setiap langkah adalah petualangan menuju hal baru. Sangat mendebarkan dan benar-benar sepadan," kata Chang Ting, seorang wisatawan dari Xi'an di China barat laut, yang menghabiskan dua hari dari perjalanan tiga harinya ke Guizhou khusus untuk pengalaman menjelajahi gua, setelah sebelumnya melihat pengalaman tersebut dibagikan di media sosial.

Bagi mereka yang kurang menyukai petualangan dengan intensitas tinggi, pengalaman gua yang "ringan" mulai bermunculan. Dengan berkendara sekitar dua setengah jam ke arah barat dari Swallow Cave, sebuah kedai kopi di samping air terjun menawarkan suasana yang berbeda.

Terletak di dalam lima gua alami yang berada pada sisi tebing batu besar, Umber Coffee menggunakan pencahayaan utama yang hangat untuk menelusuri kontur bebatuan. Tempat ini juga memiliki restoran gua yang menyelenggarakan konser alat musik gesek.

"Rasanya sangat nyaman minum kopi dan melihat air terjun di dalam gua," kata Danila, anak muda asal Rusia yang bekerja di Guiyang, Guizhou, yang berkendara lebih dari satu jam bersama teman-temannya untuk mengunjungi tempat tersebut.

"Wisatawan tidak lagi puas hanya dengan 'melihat' gua. Mereka menginginkan pengalaman baru yang partisipatif," kata Zhao.


Penerjemah: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.