Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi II DPR RI Bahtra Banong menyatakan pidato Presiden Prabowo Subianto di Nganjuk, Jawa Timur, membawa pesan optimisme terkait polemik nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Menurutnya di Jakarta, Senin, Presiden ingin menumbuhkan kepercayaan terhadap kekuatan ekonomi nasional di tengah tekanan global.

Dia menilai bahwa pidato Presiden Prabowo itu dipotong sehingga tidak menampilkan konteksnya secara utuh sehingga narasi yang berkembang di media sosial cenderung menggiring opini seolah-olah Presiden Prabowo menganggap nilai tukar dolar tidak penting bagi ekonomi nasional.

"'Framing' (pembingkaian) seolah Presiden tidak memahami dampak dolar terhadap ekonomi. Itu jelas keliru dan tidak fair. Kalau didengar utuh, Presiden sedang mengajak rakyat untuk tidak usah panik karena fundamental ekonomi Indonesia kuat,” kata Bahtra.

Dia menegaskan bahwa Presiden Prabowo memahami betul dinamika ekonomi global, termasuk dampak perang dagang, ketidakpastian geopolitik, serta tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang.

Baca juga: Rupiah melemah, Prabowo yakin fundamental ekonomi RI kuat

Namun sebagai kepala negara, Presiden memiliki tanggung jawab untuk menjaga psikologi publik dan membangun optimisme nasional.

“Presiden tidak ingin rakyat dibebani rasa takut berlebihan. Pesan beliau sederhana yakni jangan mudah panik, jangan mudah merasa Indonesia akan kolaps hanya karena tekanan global. Kita punya kekuatan ekonomi domestik yang besar,” kata dia.

Ia menambahkan bahwa pernyataan “orang desa tidak pakai dolar” merupakan cara komunikasi sederhana untuk menggambarkan bahwa ekonomi rakyat di tingkat bawah tetap bergerak dan bertahan karena ditopang sektor riil domestik.

“Artinya ekonomi rakyat kita punya daya tahan karena bertumpu pada produksi dan konsumsi dalam negeri,” kata dia.

Presiden Prabowo, kata dia, saat ini sedang menjalankan agenda besar kemandirian ekonomi nasional, di antaranya melalui program hilirisasi industri, swasembada pangan, ketahanan energi, penguatan koperasi desa merah putih, industrialisasi nasional, serta peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.

Baca juga: BI tetap yakin rupiah akan stabil dan menguat seiring ekonomi RI

“Justru inti pidato Presiden adalah bahwa Indonesia sedang bergerak menuju kemandirian ekonomi. Kita memperkuat hilirisasi, memperbesar ekspor, mengurangi ketergantungan impor dan membangun kekuatan produksi nasional. Banyak program prioritas pemerintah yang basisnya kekuatan domestik, bukan ketergantungan terhadap dolar,” katanya.

Menurut dia, narasi pesimisme yang terus dibangun oleh pihak tertentu terhadap kondisi ekonomi nasional justru berpotensi melemahkan kepercayaan publik dan psikologi pasar.

“Dalam situasi global yang sulit, bangsa ini membutuhkan optimisme dan kepercayaan diri. Presiden Prabowo sedang membangun semangat itu. Jangan setiap pernyataan dipotong lalu dijadikan bahan propaganda politik,” kata dia.

Untuk itu, dia pun mengajak masyarakat untuk melihat pidato Presiden secara utuh, objektif dan substansial, bukan melalui potongan narasi yang menyesatkan.

“Presiden Prabowo sedang menyampaikan pesan besar bahwa Indonesia harus percaya pada kekuatan sendiri, berdiri di atas kaki sendiri dan terus melangkah menuju kemandirian ekonomi nasional,” kata dia.

Baca juga: BI: Kombinasi global dan domestik pengaruhi tekanan rupiah hari ini

Pewarta: Bagus Ahmad Rizaldi
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.