Tingkat kesejahteraan alhamdulillah sangat terpengaruh. Dulu kalau ke tengkulak harganya rendah, sekarang harganya jelas. Bahkan kalau harga tengkulak naik, Bulog juga ikut menaikkan harga

Garut (ANTARA) - Hamparan perbukitan di Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, Jawa Barat, merupakan lahan tadah hujan yang jauh dari irigasi dan tidak memiliki sumber mata air yang bisa diandalkan selain hujan.

Bagi petani , lahan tadah hujan selalu identik dengan ketidakpastian. Kekhawatiran gagal tanam maupun panen kerap muncul, terlebih jika musim kemarau datang lebih awal dan berlangsung lama hingga tanah mengering dan tidak bisa ditanami.

Namun pada awal Mei 2026, hujan masih kerap turun. Kondisi itu menjadi penyambung harapan bagi petani lahan tadah hujan agar tetap bisa menanam dan panen saat kemarau.

Seperti yang dialami Jajang Sumpena (54), petani di Kampung Cikendal, Desa Sukalarang, Kecamatan Sukawening, Garut. Ia bersyukur hujan masih membasahi lahan jagungnya yang berada di perbukitan pada ketinggian 1.000 mdpl.

Pada April lalu, Jajang memanen jagung dari lahan garapan seluas 3 hektare dengan hasil lebih dari 20 ton. Hasil itu cukup memuaskan, mengingat rata-rata petani jagung biasanya hanya memperoleh 5 sampai 7 ton per hektare.

Kini, memasuki awal Mei dan mendekati musim kemarau, Jajang kembali menanam jagung. Sebagian lahannya juga sedang dipersiapkan untuk penanaman berikutnya.

Menurut Jajang, cuaca yang masih sering hujan menjadi kesempatan baik untuk mulai menanam, karena jagung hanya membutuhkan banyak air pada awal masa tanam. Setelah itu, dalam tiga sampai empat bulan berikutnya, kebutuhan air tidak terlalu besar.

"Jadi, kalau sekarang menanam jagung, nanti Juli atau Agustus masih bisa panen jagung, karena jagung itu hanya butuh air di awal tanam saja," kata Jajang saat meninjau lahan jagungnya pada awal Mei 2026.

Lahan jagung seluas 3 hektare itu dipantau dan dirawat setiap hari agar tanaman tumbuh maksimal. Ia juga menyiagakan sejumlah anjing, baik yang dilepasliarkan maupun diikat di beberapa titik, untuk menjaga ladang dari serangan gerombolan monyet liar yang kerap datang mengambil jagung.

Bagi Jajang, keberadaan anjing sangat membantu. Tanpa penjagaan, jagung yang mulai berbuah bisa habis dijarah monyet, seperti yang pernah dialaminya sebelumnya.

"Kalau tidak dijaga sama anjing, jagung bisa habis sama monyet," kata Jajang.

Baca juga: Dispertan Garut targetkan produksi jagung 650 ribu ton pada tahun 2025

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.