Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur (Jaktim) menyiapkan pembentukan sistem terpadu bagi pelaku usaha Jakpreneur yang menghubungkan kebutuhan permodalan, pemasaran, serta pengembangan kemasan produk dalam satu platform terintegrasi.

"Kami masih menggagas sistem untuk pelaku usaha Jakpreneur yang mempermudah ibu-ibu sekalian setelah mengikuti bimbingan teknis pengembangan ekonomi kreatif yang digelar Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Sudin Parekraf) Jakarta Timur," kata Wali Kota Jakarta Timur Munjirin dalam pembukaan kegiatan bimbingan teknis pengembangan ekonomi kreatif tahun 2026 di Jakarta Timur, Selasa.

Menurut dia, sistem tersebut mampu menjadi solusi atas berbagai kendala yang selama ini dihadapi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya peserta Jakpreneur binaan Pemerintah Kota Jakarta Timur.

"Sudin Parekraf Jakarta Timur ini sebagai salah satu dari enam suku dinas yang punya UMKM-nya, Jakpreneurnya diampu oleh sudin-sudin. Tadi disampaikan peserta selama tiga hari itu satu hari 100 peserta, berarti ada sekitar 300 peserta yang dibina," ujar Munjirin.

Dia menjelaskan, selama ini, masing-masing suku dinas telah melakukan pembinaan terhadap pelaku usaha sesuai bidangnya. Namun ke depan, seluruh pembinaan tersebut diharapkan dapat disatukan dalam satu sistem digital yang saling terhubung agar mempermudah pelaku usaha mengembangkan usaha mereka.

Munjirin mengatakan banyak pelaku UMKM menghadapi persoalan yang berbeda-beda, mulai dari kesulitan pemasaran, pengemasan produk (packaging), hingga keterbatasan modal usaha.

Baca juga: Pemkot Jaktim siapkan pendampingan berkelanjutan untuk Jakpreneur

Oleh karena itu, kata dia, diperlukan wadah yang dapat mempertemukan seluruh kebutuhan tersebut dalam satu ekosistem bisnis.

"Kalau ini disatukan dalam sistem, nanti di situ ada semuanya. Anggotanya masuk, kemudian akses pemberi modal seperti perbankan, koperasi, dan sebagainya juga masuk. Lalu, pihak yang konsen dalam pemasaran juga bisa mengakses grup tersebut," jelas Munjirin.

Dia mencontohkan apabila terdapat pengusaha eksportir yang ingin mencari produk kriya untuk dipasarkan ke luar negeri, maka pengusaha tersebut dapat langsung mengakses sistem dan melihat profil pelaku usaha, jenis produk, serta model pengemasan yang dimiliki.

"Misalnya, ada eksportir ingin mengekspor produk kriya, dia bisa melihat produknya seperti apa, packaging-nya seperti apa, alamatnya di mana, milik siapa. Jadi, pihak yang membantu pemasaran bisa langsung mengakses," ucap Munjirin.

Selain pemasaran, dia mengharapkan agar sistem tersebut mampu menjawab persoalan permodalan yang kerap menjadi hambatan pelaku usaha dalam mengembangkan bisnis mereka.

Melalui sistem tersebut, pelaku usaha dapat menyampaikan kebutuhan modal usaha yang kemudian direspons oleh pihak perbankan, koperasi, maupun lembaga pembiayaan lainnya.

"Ibu-ibu nanti tinggal menyampaikan di dalam sistem bahwa membutuhkan modal untuk pengembangan usaha. Nanti akan ada yang menangkap dari perbankan, koperasi, atau yayasan yang memang konsen membantu permodalan," tutur Munjirin.

Baca juga: Pemkot Jaktim dorong digitalisasi UMKM lewat bimtek ekonomi kreatif

Tak hanya itu, sistem tersebut juga memungkinkan pihak lain, seperti konsultan kemasan produk, mentor bisnis, maupun pelatih pemasaran untuk ikut terlibat memberikan pendampingan kepada pelaku usaha. Dengan demikian, proses pembinaan dapat berjalan menyeluruh dari hulu hingga hilir.

Lebih lanjut, Munjirin menilai, apabila sistem tersebut berhasil diwujudkan, maka akan tercipta proses bisnis yang lebih efektif dan memudahkan para pelaku usaha binaan Jakpreneur untuk berkembang.

"Nanti, tercipta proses bisnis yang bagus di dalam sistem tersebut. Pelaku usaha bisa terhubung dengan pemasaran, permodalan, hingga pelatihan dalam satu wadah," ungkap Munjirin.

Dia pun mengakui pembangunan sistem terpadu itu menjadi tantangan tersendiri karena membutuhkan dukungan teknologi dan programmer yang mampu mengintegrasikan seluruh kebutuhan pelaku usaha dalam satu platform digital.

Meski demikian, Pemkot Jakarta Timur berkomitmen mendorong inovasi dalam pengembangan UMKM agar pelaku Jakpreneur semakin naik kelas dan memiliki daya saing yang lebih luas, termasuk menembus pasar internasional.

"Ini sebenarnya salah satu keinginan Pemerintah Kota Jakarta Timur agar tercipta sistem yang tidak menyusahkan pelaku usaha. Nanti, tidak hanya Sudin Parekraf saja, tetapi seluruh sudin yang mengampu Jakpreneur bisa disatukan dalam satu sistem," pungkas Munjirin.

Baca juga: Pemkot Jaktim tingkatkan daya saing 300 pelaku usaha ekonomi kreatif

Baca juga: Warga Jaktim sulap sampah rumah tangga jadi kerajinan bernilai ekonomi

Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.