Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan bahwa cagar budaya nasional yang dimanfaatkan secara maksimal, didukung dengan infrastruktur yang tepat mampu mendukung pergerakan ekonomi berbasis budaya.

“Jadi dengan penetapan ini justru yang bisa terjadi adalah keuntungan kalau ini kita manfaatkan, jadi jangan itu menjadi barang mati, tapi harus hidup. Dimanfaatkan menjadi wisata budaya misalnya menjadi wisata religi, menjadi ekonomi budaya,” kata Fadli saat ditemui di Jakarta, Selasa.

Ia menyontohkan salah satunya adalah kawasan Candi Borobudur yang sebelumnya berantakan, lalu pada 1973-1983 telah direvitalisasi, kawasan ditata sehingga mampu mendongkrak kunjungan wisata yang mendukung perekonomian UMKM sekitar, demikian pula dengan Candi Prambanan.

Baca juga: Menbud ungkap pemerintah telah tetapkan 430 cagar budaya nasional

Ia berharap aktivitas seperti wisata berbasis olahraga atau sport tourism, festival musik dan lainnya dapat juga bisa dihadirkan di cagar budaya nasional.

“Kita harapkan di situs-situs yang lain sesuai dengan jenis situs ya. Kalau misalnya itu masjid, kalau masjid itu rapi, bagus ya, tentu orang datang ke masjid, orang datang nanti yang kafe, restoran yang ada di sekitarnya, mungkin merchandise-nya itu hidup gitu ya. Atau di gereja, akan sama kira-kira seperti itu,” katanya.

Tak hanya itu, sejumlah makam wali songo juga dinilai berpotensi menjadi sumber ekonomi masyarakat misalnya pengunjung akan mencari konsumsi dan lainnya.

Baca juga: Fadli Zon resmikan Paviliun Indonesia di Biennale Venesia 2026

Sementara berkaca pada makam di luar negeri yang justru pengunjung dikenakan tiket berbayar seperti di Pantheon di Yunani yang dikenakan bea masuk, ia berharap infrastruktur dan tata kelola yang baik di sejumlah cagar atau situs budaya nasional bisa menjadi daya tarik wisatawan.

Ia berjanji akan memperbaiki warisan budaya Indonesia untuk turut mendongkrak pariwisata. “Jadi kita memperbaiki ini sebenarnya untuk menuju ke pariwisata,” katanya.

Lebih dari itu, Fadli mendorong agar pelaku UMKM juga mampu menghadirkan stiker atau label budaya tak benda pada produk yang dijual untuk memberi nilai tambah.

Baca juga: Menbud dorong kolaborasi perfilman Indonesia-Arab Saudi di Cannes

“Jadi kalau kita lihat ini, saya lihat di berbagai tempat gitu. Kalau misalnya ini makanan, sudah menjadi warisan budaya tak benda. Nah itu kan Indonesian Cultural Heritage gitu ya. Itu kan agak beda makannya. Kita makan warisan budaya tak benda, ada nilai tambahnya gitu. Nilai jualnya pun lebih bagus, bisa dikemas sedemikian rupa lebih mahal yang dimakan ini adalah warisan budaya,” ungkap Fadli.

Upaya ini menurutnya mampu menarik perhatian pembeli pasalnya terdapat cerita atau story yang dihadirkan.

“Ada cerita, story is commodity juga lho. Cerita juga sebuah komoditas,” begitu kata Menbud.

Baca juga: Menbud: Art Jakarta Gardens sarana edukasi publik menghargai seni rupa

Baca juga: Menbud sebut dana abadi kebudayaan jangkau 3 ribu lebih penerima

Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.