Jakarta (ANTARA) - Rumpun-rumpun bambu tumbuh rapat mengikuti lekuk tebing dan ceruk aliran sungai di Desa Watu Galang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Selama berpuluh-puluh tahun, vegetasi tersebut dibiarkan meranggas dan hanya dipandang sebagai tiang-tiang pancang alami penahan longsor, sekaligus pelindung sumber mata air perbukitan.
Namun, kini, tanaman warisan leluhur itu membuka jalan tengah yang mengharmonisasikan perlindungan hutan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di pelosok desa bagian paling barat Pulau Flores itu.
Bagi masyarakat di Pegunungan Mbeliling, bambu, kini bukan lagi sekadar dekorasi alam perdesaan. Di tengah himpitan ekonomi dan perubahan bentang alam yang kian dinamis, hasil hutan bukan kayu tersebut menjelma menjadi pilar penopang hajat hidup orang banyak.
Inilah cerita tentang bagaimana sebuah komunitas di lingkar luar destinasi wisata super prioritas Labuan Bajo berhasil meretas kemandirian, tanpa harus menumbangkan pohon dari kawasan hutan lindung.

Sejak medio Oktober 2023, Falentinus Hendrik (56) bersama empat warga lainnya yang terhimpun dalam Kelompok Panen Petani Bambu Hutan Wela Nara secara konsisten merawat dan memanen komoditas tersebut.
Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, kelompok kecil ini telah mendistribusikan sekitar 140 truk berisi penuh batang bambu menuju rumah produksi di Labuan Bajo, atau 5-6 truk per bulan, di mana setiap truk memuat 260 batang bambu berukuran 2,6 meter.
Langkah ini secara perlahan mengubah peta kesejahteraan domestik di wilayah yang dulunya kerap terisolasi dari sirkulasi ekonomi modern.
Sebelum program tata kelola ini masuk, bambu-bambu raksasa jenis petung (Bambusa asper) tumbuh liar, tanpa sentuhan manajemen yang jelas. Mayoritas ditanam oleh para tetua kampung di area-area kritis, dengan tujuan untuk meredam erosi permukaan tanah saat musim hujan tiba. Kini, investasi ekologis masa lalu itu justru mengalirkan keuntungan ganda.
Dari hasil penjualan berkala, Falentinus secara pribadi mampu mengantongi pendapatan kumulatif hingga Rp40 juta dari batang-batang bambu berdiameter 8-12 centimeter itu. Pendapatan itu baru dari hasil belian bambu yang per batang senilai Rp8.000-Rp12.000, belum termasuk upah angkut dan jasa pengiriman yang menyentuh senilai Rp2 jua - Rp5 juta.
Sebuah angka yang sangat berarti untuk menjaga stabilitas dapur dan menopang biaya pendidikan anak-anaknya, hingga ke jenjang perguruan tinggi atau bahkan menikahkan mereka secara pantas.
Meski demikian, aktivitas pemanenan di Watu Galang tidak dilakukan secara ekspoitatif. Mereka hanya menyasar batang yang telah mencapai kematangan usia minimal empat tahun, sementara tunas-tunas muda sengaja dipertahankan agar siklus renegerasi alami tetap bergulir. Rumpun yang berlokasi di titik-titik rawan pergerakan tanah dipantang untuk disentuh, demi menjaga keselamatan permukiman di bawahnya.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.