Jakarta (ANTARA) - SMESCO bersama INA Trading mulai menerapkan teknologi Radio Frequency Identification (RFID) berbasis blockchain pada produk UMKM yang akan diekspor ke pasar Eropa, khususnya Portugal dan Belanda, untuk membantu autentikasi serta keterlacakan produk.
Teknologi RFID disematkan pada produk UMKM terpilih dan terhubung dengan sistem blockchain sehingga setiap produk memiliki identitas digital atau Data Digital Passport.
Dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, Direktur PERURI Smart Card Muchrizal mengatakan teknologi RFID dan blockchain digunakan untuk membantu pelacakan dan identifikasi produk ekspor.
Baca juga: Wamen UMKM berkomitmen perkuat keberpihakan pada pengusaha lokal
“Teknologi RFID yang dikembangkan oleh PERURI Smart Card dapat memuat berbagai macam data yang dibutuhkan eksportir dan importir," kata Muchrizal.
Data tersebut memuat informasi mengenai bahan baku, sertifikat, jejak karbon, hingga asal produk yang dapat diakses melalui aplikasi mobile INA Trading.
Produk yang telah menggunakan sistem tersebut di antaranya dompet, tas, sepatu, dan scarf dari UMKM binaan SMESCO yang dipasarkan ke Eropa.
Baca juga: Kementerian UMKM ajak pelaku usaha rangkul teknologi dan AI
Muchrizal menjelaskan RFID terintegrasi dengan blockchain sehingga setiap produk yang menggunakan teknologi tersebut mempunyai Token ID dan TX Hash menjadi Data Product Passport yang dibutuhkan regulator European Blockchain Services Infrastructure di Eropa.
Menurut dia, penerapan sistem tersebut juga menjadi bagian dari upaya penyesuaian terhadap regulasi baru Uni Eropa terkait keberlanjutan produk dan transparansi rantai pasok.
Uni Eropa saat ini mulai menerapkan sejumlah aturan seperti Digital Product Passport, Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), serta EU Deforestation Regulation yang membutuhkan keterlacakan produk secara digital.
Baca juga: Smesco dan Mediawave kolaborasi hadirkan digitalisasi UMKM lewat AI
Direktur PUNDI dan INA Trading Amiranto Adi Wibowo mengatakan produk ekspor Indonesia perlu memenuhi standar identitas digital dan keterlacakan agar dapat bersaing di pasar Eropa.
“Agar dapat memasuki pasar Uni Eropa secara kompetitif, produk Indonesia wajib memenuhi berbagai regulasi utama seperti Digital Product Passport di bawah regulasi Ecodesign for Sustainable Products Regulation (ESPR) yang berlaku sejak 18 Juli 2024 dan diimplementasikan bertahap hingga 2030,” ujar Amiranto.
Ia menambahkan regulasi lain seperti EU Deforestation Regulation dan Corporate Sustainability Due Diligence Directive (CSDDD) juga mengharuskan adanya transparansi rantai pasok dan sistem identifikasi produk.
Baca juga: Kementerian UMKM sebut digitalisasi kunci penting dalam hilirisasi
“Seluruh regulasi ini mensyaratkan identitas produk digital, keterlacakan end-to-end, serta standar identifikasi produk global agar produk dapat diterima dan beredar di pasar Eropa,” katanya.
Dalam implementasinya, pembeli di Casa Da Indonesia di Porto, Portugal, nantinya dapat memindai produk menggunakan aplikasi untuk melihat data digital produk yang tersimpan dalam sistem blockchain.
Pengembangan sistem tersebut melibatkan sejumlah pihak, antara lain PERURI Smart Card, PERURI Digital Security, PUNDI Group, EQBR Korea, Kementerian UMKM, SMESCO, BLOCKTOGO, Indonesia In Your Hand, dan Mindsground.
Melalui program tersebut, SMESCO dan INA Trading menargetkan nilai ekspor produk UMKM mencapai Rp1,5 miliar sepanjang 2026.
Baca juga: Smesco siap “reborn”, kembali jadi sentra UMKM Indonesia
Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.